Rabu, 19 Februari 2014

Selamat Jalan Rene Conway , #Vincero

Indonesia kehilangan tokoh marching band besar. Rene Conway, pria asal Amerika Serikat yang rela 21 tahun tinggal di Indonesia demi membesarkan marching band di Tanah Air itu kini telah tiada. Ia meninggal dunia karena serangan jantung di Bontang, Kalimantan Timur, Rabu (19/2).

Bontang sudah dianggap sebagai kampung halamannya yang kedua setelah tempatnya lahir di Pasadena, AS.

Conway sudah mengabdi untuk masyarakat Bontang selama 20 tahun. Ia membesarkan tim marching band di kota itu yang sangat terkenal di Indonesia yakni Marching Band Bontang-Pupuk Kalimantan Timur (MB Bontang PKT).

Saking terkenalnya, kiprah tim marching band ini dijadikan sebuah film berjudul 12 Menit untuk Selamanya yang pertengahan Januari 2014 lalu diputar di seluruh bioskop di Tanah Air.

Rentang waktu 20 tahun bukan masa yang singkat. Tetapi, pria tambun ini tetap bertahan di Bontang. Kecintaannya pada marching band dan masyarakat Bontang lah yang membuatnya betah tinggal di kota kecil itu.

Pertengahan tahun lalu, SP berkesempatan wawancara dengan Conway. Ia mengaku rela jauh dari kampung halamannya demi membagi ilmu kepada anak-anak di Bontang.

“Sejak kuliah, saya memang punya keinginan untuk membagi ilmu dan pengalaman di luar negeri,” ujar Conway dengan bahasa Indonesianya yang fasih.

Sejak bangku sekolah, Conway memang akrab dengan alat musik, terutama perkusi. Conway juga memilih kuliah jurusan musik di Sam Houston State University, Texas. Di sana, ia bergabung dengan grup marching band. Sejumlah kejuaraan ia ikuti. Bahkan, ia pernah bergabung dengan kelompok marching band profesional.

Keinginan untuk mengajar di luar negeri terus menguat. Conway sempat mengikuti tur keliling Eropa. Ia melihat, banyak marching band di sejumlah negara Eropa belum memiliki banyak ilmu tentang marching band. “Ketika itu saya ingin (mengajar) ke Eropa. Tetapi, kesempatan itu belum muncul. Saya terus berdoa agar bisa terwujud,” tuturnya.

Ternyata, jalan hidup Conway berbeda. Pada tahun 1991, seorang kawannya memberi kabar bahwa ada iklan lowongan pekerjaan di koran terbitan Chicago. Di iklan itu disebutkan, grup marching band Sampoerna di Surabaya, Indonesia, butuh pelatih perkusi.

Conway tertarik. Soalnya, nama marching band Sampoerna memang sudah menjadi pembicaraan banyak pelatih di AS. Sebab, marching band Sampoerna pernah membuat kejutan ketika tampil di Pawai Bunga di Pasadena pada tahun 1990. Ketika itu terjadi diskusi besar antara semua pelatih, mereka terkejut ternyata ada marching band di sebuah negara bernama Indonesia. Hampir semua pelatih tidak tahu di mana Indonesia.

“Kebetulan saya sudah tahu Indonesia. Sebab, di North Texas, ada sebuah grup gamelan yang semua anggotanya warga AS. Mereka pernah menggelar konser gamelan Bali dan Jawa di Texas,” kata dia.

Conway memutuskan berangkat ke Chicago untuk ikut seleksi dan wawancara. Ia diterima. Pada awal Juni 1991 ia tiba Surabaya. Ternyata, belum genap setahun, tepatnya Desember 1991, MB Sampoerna bubar. Conway bersama pelatih MB Sampoerna Andy Dougharty berangkat ke Jakarta. Mereka berkeliling dan menjadi pelatih di sejumlah marching band. Mereka juga bertemu dengan Kirnadi, pelatih MB Tarakanita yang pernah banyak melatih grup marching band. Kirnadi memberi jalan bagi Conway dan Dougharty untuk menangani marching band Pupuk Kalimantan Timur (PKT). Keduanya tertarik. Awal 1993, Conway dan Dougharty menjadi pelatih tetap di PKT. Belakangan, Dougharty keluar dan memilih pekerjaan lain.

Mengubah Hidup
Conway menikmati pekerjaannya. Menurut dia, Kota Bontang adalah kota kecil yang terpencil. Mirip seperti kampung halamannya di Pasadena, walaupun jumlah penduduknya jauh di bawah Bontang. Sedihnya, kata dia, kebiasaan di kota kecil selalu sama, status quo atau biasa-biasa saja. Tidak banyak dorongan untuk menjadi lebih dari yang lain, karena tidak ada saingan yang menantang. Kebanyakan anak muda hanya “nongkrong” di perempatan jalan atau sudut-sudut kota tanpa aktivitas berarti. Tidak ada perubahan untuk melakukan sesuatu yang baik.

“Saya tahu mentalitas kota kecil seperti apa. Karena itu, saya tertarik bertahan di Bontang. Saya ingin membuka wawasan anak muda di sini. Memperlihatkan ke mereka, meskipun dari kota kecil, mereka mampu. Sebab, bakat tidak melihat tempat. Lingkungan lah yang kadang mengubah itu. Ternyata, keinginan saya didukung PKT. Mereka membuka kesempatan besar dan membuka dunia buat anak-anak Bontang,” tutur ayah dua anak ini.

Tiap hari, Conway berkantor di GOR PKT. Ia melatih marching band anak-anak Bontang yang kebanyakan bukan anak karyawan PKT. Tiap tahun, lebih dari 300 anak yang mendaftar. Saat ini, grup marching band itu sudah memiliki sekitar 2.000 alumni.

Tangan dingin dan disiplin yang keras ala Conway berhasil membuat grup MB Bontang PKT tersohor. Sejumlah prestasi diraih. Setahun setelah ditangani Conway, MB PKT meraih Juara Umum pada Grand Prix Marching Band (GPMB) 1994. MB PKT merupakan satu-satunya peserta di luar Jakarta yang mampu meraih juara umum GPMB sejak kejuaraan itu digelar pada tahun 1980.

Pada tahun-tahun berikutnya, 10 tahun berturut-turut, MB PKT mampu pertahankan prestasi sebagai juara umum GPMB. Itu merupakan pencapaian istimewa. Sebab, belum ada kelompok marching band lain di Indonesia yang mampu menyamainya.

Pengalaman lain MB PKT, antara lain tahun 1998 MB PKT memperoleh penghargaan Sudler Shield Award dari World Association of Marching Show Bands (WAMSB). Para pelatih dari juri marching band internasional melakukan penilaian dari rekaman video penampilan MB PKT. Penghargaan ini merupakan bukti bahwa MB PKT mampu “bicara” di panggung internasional. Dari hasil menjadi juara umum GPMB 2001, MB PKT pun dinyatakan sebagai Band of the Year 2001 oleh WAMSB. Penghargaan tersebut semakin menambah keyakinan, bahwa MB PKT merupakan kelompok marching band yang bisa bersaing pada taraf internasional.

Tahun 2002, nama MB PKT diubah menjadi Marching Band Bontang Pupuk Kaltim (MB Bontang PKT). Sebab, para personelnya sebagian besar (90 persen) adalah pelajar dan pemuda Kota Bontang. Prestasi yang telah diraih selama ini merupakan kebanggaan bersama masyarakat Kota Bontang. Kelompok ini juga dua kali tampil di Kuala Lumpur, Malaysia dan meraih juara. MB Bontang PKT juga beberapa kali tampil di Istana Merdeka. Tahun 2013 lalu, MB Bontang PKT juga akan tampil pada Parade Senja HUT RI di Istana Merdeka pada 17 Agustus.

Kini, Conway telah tiada. Namun, kiprahnya bagi Bontang terus akan dikenang. Selamat Jalan Rene’ Conway.

Penulis: Yuliantino Situmorang/YS

Sumber:suara pembaruan

Previous
Next Post »