Kamis, 06 Maret 2014

Belajar dari Kisah Klasik David vs Goliath : Keberuntungan dari Ketidakberuntungan

Belajar dari Kisah Klasik David vs Goliath : Keberuntungan dari Ketidakberuntungan

Kalau Anda sedikit bertanya-tanya soal judul tersebut, saya maklum. Semula saya ingin membuat judul yang lebih panjang dengan menambahkan kalimat yang bernada sebaliknya: Keberuntungan dari Ketidakberuntungan dan Ketidakberuntungan dari Keberuntungan. Makin bingung?

MAKSUDNYA Begini. Saya baru saja membaca buku baru dari Malcom Gladwell. Judulnya David and Goliath: Underdogs, Misfits, and the Art of Battling Giants. Buku itu sangat memikat. Mungkin kita bisa langsung memulainya dari cerita utama dalam buku tersebut, yakni pertarungan David versus Goliath. Saya tidak ingin terlalu detail karena sebagian di antara Anda pasti sudah pernah mendengar cerita tersebut.

Intinya adalah David, seorang bocah gembala berbadan kecil (mewakili simbol segala sesuatu yang dianggap lemah dan tidak beruntung), mampu mengalahkan sosok raksasa yang jauh lebih tinggi dan besar, Goliath (simbol segala sesuatu yang dipercaya unggul). David mewakili pasukan Israel, sedangkan Goliath adalah wakil tentara Filistin yang saat itu begitu perkasa. Goliath memiliki peralatan yang lengkap.

Ia memakai helm perang dari perunggu, baju zirah seberat hampir 100 pon, serta membawa lembing, tombak, dan pedang. Goliath juga memiliki pembantu yang membawakan perisainya. Sementara itu, David sama sekali tidak membawa senjata tajam. Senjatanya hanya katapel dan beberapa buah batu. Dia menolak diberi seragam perang dari logam yang bisa membuatnya tidak lincah bergerak.

Itu mengingatkan saya pada sahabat-sahabat petani di Rumah Perubahan yang menolak bekerja dengan memakai seragam serta alas kaki. Mengapa David dan mengapa Goliath? Filistin sebagai penyerang punya jagoan yang memiliki daya sihir kuat. Begitu ditampilkan, lawan langsung tergetar. Lalu, mengapa David jawabannya? Sebab, tidak ada prajurit Israel yang bisa mengimbangi Goliath.

Bahkan, mereka semua terdiam. Karena itulah, bocah gembala tersebut menyiarkan dirinya. Hasil pertarungan tersebut, kita semua sudah tahu. Melalui kisah klasik itu, Gladwell mengajak kita merenung kembali bahwa kita tidak selalu mampu memanfaatkan keberuntungan seperti yang dimiliki Goliath. Tentara yang sudah berpengalaman berperang, tinggi besar, dan didukung peralatan perang yang lengkap ternyata kalah.

Keberuntungan yang dimiliki justru berbuah menjadi ketidakberuntungan. Sebaliknya, posisi kurang beruntung dimiliki David. Dia hanya seorang gembala yang sama sekali tidak memiliki pengalaman berperang, tidak berpengalaman menggunakan senjata. Dia hanya bermodal katapel. Meski begitu, ternyata David memenangi pertarungan tersebut. Dia bisa mengubah ketidakberuntungan menjadi keberuntungan.

Dalam buku tersebut, Gladwell mengajak kita merenung agar tidak salah memahami bahwa sesuatu yang semula kita maknai sebagai keberuntungan ternyata malah bukan. Atau, sesuatu yang semula kita anggap sebagai ketidakberuntungan ternyata malah bisa berbalik menjadi keberuntungan. Kehidupan ini kaya dengan asimetri. Jika kita berpikir dengan cara-cara yang biasa, semestinya yang menang dalam pertarungan tersebut adalah Goliath.

Ia siap bertarung jarak dekat dengan mengandalkan sosoknya yang besar, tenaga yang kuat, serta peralatan yang lengkap. Namun, David memilih menghadapinya dengan cara yang lain. Yakni, bertempur jarak jauh serta mengandalkan kelincahan, kecepatan, dan akurasi. Akhirnya, Goliath tumbang. Melalui inspirasi kasus David versus Goliath itu, kita bisa belajar tentang asimetri-asimetri yang lain dalam kehidupan.

Misalnya, yang terjadi dalam kasus penyerbuan tentara Amerika Serikat (AS) ke Vietnam. Kalau mau dibandingkan, kekuatan persenjataan Vietnam pasti tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan AS. Karena itu, kalau yang terjadi adalah simetri, semestinya AS bisa mudah menaklukkan Vietnam. Namun, hal itu ternyata hanya terjadi dalam film-film buatan Holywood. Dalam dunia nyata, yang terjadi adalah asimetri.

AS gagal menaklukkan Vietnam –kalau tidak mau dibilang kalah. Caranya sangat sederhana. Tentara Vietkong bersembunyi dalam lubang-lubang kecil di bawah pohon mirip jalan tikus. Peristiwa serupa berulang di Afghanistan. Setelah berperang sejak 2001, AS yang perkasa akhirnya terpaksa menarik sekitar 100.000 tentaranya keluar dari Afghanistan dengan kepala tertunduk.

Kondisi asimetri yang lain, misalnya, terjadi pada orang-orang yang masa kecilnya menderita, prestasi akademiknya buruk, tinggal kelas, atau ditinggal orangtuanya –ayah atau ibu atau keduanya– dibanding mereka yang orangtuanya masih lengkap. Dalam kasus ini, Gladwell mengungkap kajian Marvin Eisenstadt, seorang psikolog.

Eisenstadt, yang melakukan kajian terhadap 573 orang terkemuka, menemukan bahwa 25 persen di antara mereka ternyata sudah kehilangan orangtua sebelum usianya mencapai 10 tahun. Lalu, 45 persen lainnya kehilangan orangtua sebelum usia mereka memasuki 20 tahun. Apa kuncinya sehingga mereka yang masa mudanya kurang beruntung itu malah mampu tumbuh dan berkembang menjadi orang sukses serta terkemuka? Kuncinya, kesulitan pada masa muda bisa membentuk kecerdasan dalam menghadapi masalah.

Itu sejalan dengan temuan Carol Dweck yang mengatakan, ’’Kalau orangtua bertanya adakah hadiah yang cocok yang bisa diberikan kepada anak-anaknya, jawabannya adalah beri mereka tantangan kehidupan.’’ Kondisi semacam itu tidak dialami mereka yang tidak kehilangan orangtua. Sahabat saya, Mustafa Abubakar, adalah salah satu contohnya. Dia masih berada dalam kandungan ketika ayahandanya meninggal.

Menyadari dirinya anak yatim, Mustafa tidak larut dalam duka atau tumbuh menjadi anak yang kurang percaya diri. Yang terjadi malah sebaliknya. Dia tumbuh menjadi anak muda yang tangguh dan mandiri. Sejak muda Mustafa diminta menggantikan peran ayahandanya, mewakili keluarga, dalam berbagai acara yang digelar di kampungnya di Aceh. Dari situ, dia mulai mengenal arti tanggung jawab –yang kemudian menjadi modal penting bagi perjalanan hidupnya.

Kini kita mengenal Mustafa sebagai mantan gubernur Aceh, mantan kepala Bulog, mantan menteri BUMN, dan posisi terakhir yang dijabat adalah wakil komisaris utama PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. Meski begitu, harus diakui, tidak banyak di antara kita yang mampu membalik ketidakberuntungan menjadi keberuntungan. Malah sebaliknya, kita sering membuang-buang kesempatan seperti saat menghadapi perlambatan ekonomi dewasa ini.

Merasa lemah sebagai pelaku usaha kecil, tak punya cukup modal, kurang ganteng, mengidap penyakit menahun, kurang sempurna, dan sebagainya. Semoga kasus David vs Goliath mampu membuka mata dan hati kita untuk memahami bahwa keberuntungan atau ketidakberuntungan sesungguhnya ada pada cara kita memandang serta menyikapi keadaan kita dan sekitar kita. (*/rhenald Kasali/penulis adalah guru besar manajemen UI yang tulisannya kerap jadi bacaan para pebisnis/che/k7)

Previous
Next Post »