Kamis, 06 Maret 2014

MUI Simpulkan Ajaran Mahmudin Sesat

MUI Simpulkan Ajaran Mahmudin Sesat - SAMARINDA - Status aliran yang diajarkan pemimpin Majelis Ar Roudhoh, Mahmudin Azhari, terjawab pada Selasa (4/3) kemarin. Dalam pertemuan yang diinisiasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Samarinda, disimpulkan ajaran Mahmudin tidak bisa disebarluaskan karena menyesatkan.

Pertemuan dengan agenda konfrontasi dengan para ulama tidak dihadiri sosok Mahmudin. Meski demikian, hadir pengikut dan mantan murid dalam pertemuan dua jam di kantor sementara MUI Samarinda di Jalan Wijaya Kesuma, Samarinda Ulu.

Pukul 10.00 Wita kemarin, datang terlebih dulu pengikut Mahmudin berjumlah 28 orang. Tidak lama kemudian, mantan murid Mahmudin datang. Jumlahnya tidak banyak, enam orang.

Pukul 10.30 Wita, di bawah pengawalan kepolisian dan dipimpin Ketua MUI Samarinda, KH Zaini Naim, konfrontasi dimulai. Enam perwakilan pengikut dan dua mantan anak didik Mahmudin duduk di ruangan ketua MUI disaksikan jamaah Ar Roudhoh yang masih aktif maupun tidak.

Bukti-bukti yang dihadirkan dalam konfrontasi kemarin adalah dua diktat dan beberapa kitab yang diduga diajarkan Mahmudin. Di situ, dibawa kitab Hikam dan kitab berbahasa melayu.

Zaini Naim memulai konfrontasi dengan pengikut Mahmudin terlebih dahulu. Dia menanyakan apa yang mereka terima dan dapatkan selama ini. Setelah itu, perlahan Zaini Naim mengupas kitab dan diktat yang mereka terima dari sang guru, namun tidak ada satu pun yang mampu menjawab.

“Tidak ingat,” sebut salah seorang pengikut. Sementara yang lain hanya diam. Kemudian, ketua MUI mengupas isi kitab dan diktat yang diajarkan Mahmudin, namun lagi-lagi para pengikut tidak mampu menjelaskan ajaran tersebut dengan rasional.

Selanjutnya, Zaini Naim menanyakan pernikahan yang dilakukan oleh Mahmudin dengan seorang jamaah yang diduga dilakukan secara alam gaib dengan wali adalah suami jamaah itu sendiri. “Itu hanya canda guru. Hanya rekayasa,” klaim pengikut Mahmudin.

Zaini Naim terenyak ketika pernikahan tersebut dianggap canda oleh seorang guru. “Ini pelecehan syariat dan akidah. Walinya adalah suaminya sendiri.
Nikahnya tidak sah. Berarti perzinahan. Nikah siri dalam Islam itu tidak ada, nikah Nur itu tidak ada. Bertentangan dengan agama (Islam). Lalu setelah nikah Nur, nikah Dhohir, tidak benar karena suaminya menjadi wali. Itu yang dilakukan guru. Itu perzinahan. Masak seorang guru tidak mengerti persoalan ini,” paparnya.

Konfrontasi berlanjut mengenai Makkah dan Madinah di Mugirejo, imsak pukul 00.00 Wita, dan jamaah kerasukan nabi, serta guru yang dianggap bahlul yang diajarkan Mahmudin. Kembali, pengikut Mahmudin membantah tudingan itu dan mengaku tidak pernah mendengar. Namun, mantan pengikutnya, Yusransyah selaku pelapor mengakui hal itu.

“Pak Mahmudin mengatakan di depan jamaah. Termasuk dia (sambil menunjuk ke arah jamaah). Katanya Makkah dan Madinah itu di Mugirejo. Imsak dan guru bahlul,” tutur Yusransyah.

Terjadi debat kecil, Zaini Naim menengahi. “Tidak ada imsak jam 12 malam. Berarti menyalahi Alquran,” katanya. Silih berganti, anggota MUI mengonfrontasi, namun jawaban pengikut Mahmudin tidak satu pun yang bisa membuktikan ajaran gurunya benar dan sesuai akidah Islam.
“Saya sudah bisa menarik kesimpulan,” terang Naim sebelum mengakhiri.

Kepada media, Zaini mengatakan, MUI meragukan kebenaran kitab dan diktat yang diajarkan guru tersebut melihat ajaran dan ucapan pengikut Mahmudin.

“Pelapor sudah saya datangkan dan jamaah yang masih aktif juga didatangkan. Apabila ada dua orang yang bertikai, orang ketiga yang menjadi penengah yang bisa menentukan, dalam hal ini MUI. Anda dengar semua, jawaban-jawabannya tidak rasional. Andai kata menjawab, lepas dari persoalan. Sementara ini, majelis ulama berpendapat ajaran itu tidak bisa disebarluaskan karena menyesatkan. Menyesatkan,” tegasnya.

Ajaran ini tidak boleh diajarkan lagi. Kesimpulan saya, banyak tidak benarnya. Masuk dalam pelecehan, penistaan, dan pendustaan agama. Sudah mencederai agama dan telah memenuhi sepuluh kriteria aliran sesat. Itu terdiri atas bertentangan dengan Alquran, hadis, kepercayaan dengan nabi, syariat, dan kesepakatan ulama.” sambungnya.

Meskipun begitu, dia mengatakan belum perlu keluar fatwa dan masih memberi nasihat. Jika Mahmudin dan pengikutnya masih beraktivitas, Zaini Naim mengatakan itu merupakan pelecehan agama. Jika tetap melawan mengajarkan dan menyebarluaskan, MUI akan menuntut.

“Tetapi kalau Mahmudin komunikatif, tidak mengajarkan lagi dan bertobat, ya sudahlah, dia saudara kita juga,” ujarnya.

Zaini Naim juga tidak mengetahui alasan Mahmudin tidak hadir dalam pertemuan kemarin. “Jika itu ajaran yang benar, mestinya dia mengadakan pembelaan. Kebenaran itu tidak bisa ditutup-tutupi. Buktinya dia hanya mengutus jamaah yang hanya bisa bilang tidak tahu dan tidak mengerti. Semua orang punya hak seperti itu, namun masuk akal dan rasional suatu bantahan, kita bisa menilai. Suatu saat, saya panggil gurunya,” katanya.

Terpisah, kuasa hukum Mahmudin, Gusti Addy Rachamani, mengatakan ketidakhadiran kliennya karena tidak ingin membela diri sendiri. “Biarlah jamaah yang membela. Beliau menyerahkannya kepada jamaah. Kalau beliau sendiri yang hadir, nantinya pembelaan pribadi. Ke depan, ada upaya mediasi karena ini masalah umat. Minta nasihat ke MUI," sebutnya.

Sementara itu, Kapolsekta Samarinda Ulu, Kompol Burhanuddin, mengimbau kepada semua pihak menjaga suasana agar tetap kondusif. Termasuk pengikut dan mantan pengikut agar tidak memendam dendam dan amarah sehingga muncul persoalan baru.

Untuk diketahui, pengikut Mahmudin disinyalir berjumlah 100 orang. Dari berbagai kalangan, termasuk ada pula yang merupakan pegawai negeri sipil (PNS).

Previous
Next Post »