Senin, 14 April 2014

Fenomena Cafe Tepi Sungai Karangmumus Samarinda

Fenomena Cafe Remang Remang Tepi Sungai Karangmumus Samarinda - Jalur hijau yang lahir dari relokasi permukiman Sungai Karang Mumus di Samarinda, bersalin menjadi hiburan pinggir jalan. Sayangnya, genit lampu dan dentuman disko bersekutu, membuat kurangnya pengawasan menjadi faktor utama para oknum remaja terlalu bebas.

KERLIPAN pemantik dari sebuah meja di sudut kafe berukuran 5x6 meter membuat seorang pelayan tergopoh-gopoh mendekat. Seorang perempuan yang masih sangat muda, belasan tahun, berbicara di telinga pramusaji di tengah berisik musik dan pencahayaan yang temaram.

Lima menit kemudian, dua gelas minuman dingin dan sebuah botol tinggi tiba di meja lesehan beralas karpet kain yang apek. Bejana atau disebut bong (alat isap) shisha setinggi setengah meter terhubung dengan selang. Dari ujung pipa, mulut-mulut bergantian mengisap campuran tembakau basah aneka rasa yang tidak langsung terbakar oleh arang dari atas bejana.

Rabu (9/4) malam selepas pencoblosan Pemilu 2014, meja di sebuah kafe di Jalan Muso Salim, Kelurahan Karang Mumus, Samarinda Kota, itu makin ramai. Bercengkerama begitu bebas, beberapa di antaranya perempuan muda yang mengisap rokok. Mereka angkat kaki dari kafe-kafe di tepi Sungai Karang Mumus itu selepas pukul dua dini hari.

Di kafe yang lain, di Jalan KH Abdul Muthallib yang juga di tepi Karang Mumus, tawa lepas sekerumun anak baru gede pecah. Di bawah cahaya ultraviolet yang menyakitkan mata ketika ditatap, gerak-gerik mereka tidak terlihat jelas.

Namun tak sulit mengira usia mereka yang belum 17 tahun. Kepada Kaltim Post, beberapa kawula muda mengaku masih duduk di bangku SMP negeri di Samarinda.

“Di sini enak untuk bersantai,” ucap seorang pelajar SMP sembari terus mengangguk-anggukkan kepala mengikuti irama disko. Di jarinya, terselip sebatang rokok. Beberapa yang lain, dengan bedak begitu tebal, sibuk menghirup shisha bergantian.

Ditambah para pemamer kemesraan bersama pasangan membuat pemandangan layaknya klub-klub malam. Pelukan, ciuman, bahkan adegan mesum lainnya dilakoni sejumlah oknum muda-mudi.

Rabu dan Sabtu menjadi malam favorit para pengunjung. Bak diskotik, mereka menamakan malam Kamis sebagai ladies night. Para pemuda yang diketahui tergabung dalam kelompok sepeda motor (anak motor) pun menyerbu pada Rabu malam.

Sedikitnya, dari Jalan Muso Salim sampai Jalan KH Abdul Muthallib sepanjang kurang dari 1 kilometer, tersebar 23 lapak yang didekorasi untuk menarik minat mereka. Taman di tepi sungai yang sudah dilengkapi siring, hasil relokasi permukiman Sungai Karang Mumus, tak luput dari rangsekan kafe.

Ratusan, bahkan hampir seribu muda-muda, berkumpul di dua malam paling ramai itu. Jalur selebar empat meter itu pun kerap macet. Betapa tidak, dua meter sudah dimakan parkir motor di kiri-kanan jalan. Tak sampai dua meter jalur ramai itu yang bisa dipakai pengguna jalan.

***

PENYEDIA angkringan bermodal gerobak, meja, dan tenda. Kebanyakan kafe remang-remang yang bisa dibongkar-pasang, sebagian lain menyulap ruang depan atau garasi rumah.

Shisha menjadi dagangan yang paling laris. Satu bong dijual Rp 30 ribu. Mamah --sebut saja nama pemilik kafe remang-remang demikian-- mengaku membuka angkringan remang-remang hingga subuh.

Menghirup shisha, rokok ala Timur Tengah, disebut tidak menyehatkan. “Asap yang diisap lebih banyak dari merokok. Ini perlu dikhawatirkan. Apalagi mereka yang masih muda,” terang Kepala Dinas Kesehatan Samarinda, Nina Endang Rahayu.

Tak cukup shisha, penelusuran Kaltim Post menemukan transaksi narkoba pernah berlangsung. Transaksi unik dengan membungkus kristal haram dalam kotak rokok. Pengedar melempar bungkus rokok kemudian kurir akan memungutnya. Kurir yang menjual kepada para konsumen remaja.

Untuk kepentingan investigasi, media ini berpura-pura menjadi kurir dan bertransaksi dengan seorang pengedar berusia 30-an. Dari kemeja putihnya, Kaltim Post memungut bungkus rokok. Untuk memastikan lagi, media ini mengambil bungkus rokok kemudian menyelipkan di antara jari. Cara ini disebut ciri seorang pengedar.

“Pemain juga kah, Bos?” tanya pria yang mengedarkan sabu-sabu itu.

Kasat Reskoba Polresta Samarinda, Kompol Bambang Budiyanto, membenarkan modus jual-beli seperti ini. “Jika selama 15 menit, kurir tidak memberikan informasi barang sudah laku, pengedar siap-siap kabur,” jelasnya. Alasan para pengedar menggunakan sela jari untuk memegang barang dagangan, Bambang mengatakan, untuk menyamarkan sidik jari.

***

PERGAULAN kawula muda yang cenderung bebas mengundang para hidung belang. Amir, bukan nama sebenarnya, adalah seorang pencari daun muda.

“Sekalian mengincar “cabai-cabaian”. Istilah cabai-cabaian diberikan kepada remaja putri yang mengenakan celana kelewat pendek, berbaju seksi, dan kadang berkawat gigi. Namun, yang paling miris, para cabai melakoni seks bebas sehingga menjadi kegemaran pria hidung belang.

Amir yang bekerja di sebuah pabrik di kawasan pergudangan ini mengaku baru-baru saja mampir ke tenda hiburan ini. “Saya kaget, kok, di sini banyak ABG. Akhirnya ketagihan karena bisa ngobrol-ngobrol dengan mereka,” ucapnya. Meski demikian, dia mengaku belum pernah meniduri para ABG di situ.

Seorang mahasiswa dari universitas ternama di Samarinda, panggil saja Adil, juga mengaku sering menghabiskan malam di kafe tenda Karang Mumus. “Sambil cari cabai,” ucapnya terang-terangan.

Ingar-bingar dan kelakuan tak senonoh dari para ABG akhirnya membuat resah warga. Ustaz Syarwani, imam Masjid Al Misbah di Jalan KH Abdul Muthallib menerangkan, kafe remang-remang kian menjamur lantaran mendapat izin ketua RT setempat.

“Semua sudah tahu pengunjung adalah remaja yang masih sekolah,” terangnya. Syarwani mengatakan, nyaris setiap malam suara musik kafe begitu nyaring. “Mengganggu saat pengajian. Asal tahu saja, kebanyakan warga tidak senang kehadiran kafe remang-remang,” sebut Syarwani.

Abdul Hamzah, sesepuh Masjid Al Fadhielah di Jalan Muso Salim, Gang 6/7, mengatakan hal senada. Dia sering kali menegur anak-anak yang sering nongkrong. Sering mendapat perlawanan dari para remaja, pria 83 tahun itu hanya pasrah.

Dia mengatakan, para pemuda sering terlibat perkelahian. Dia mengatakan, pemerintah lokal malah membiarkan. Seorang pemilik kafe remang-remang membenarkan, untuk bisa berdagang wajib mendapat izin dari ketua RT setempat.

Didatangi ratusan remaja hampir tiap malam, lokasi ini benar-benar menghasilkan rupiah. Yudi, pemilik kafe di Jalan Muso Salim, mengaku mendapatkan ratusan ribu rupiah dalam semalam. Pria berperawakan sedang itu mengklaim bisnis mereka resmi dan dipayungi pemerintah.

“Semua yang berjualan di sini resmi. Tempat ini disediakan Pak Jaang (Wali Kota Samarinda),” ucapnya yakin. Namun ketika ditanya prosedur penggunaan lokasi, pria yang menjual mi rebus dan shisha itu kebingungan.

“Ada orang dari pemkot yang kadang-kadang memeriksa,” imbuh Yudi yang telah berjualan sejak 2011. Saat ini, aku Yudi, kalau ramai omzetnya bisa mencapai puluhan juta rupiah sebulan.
Sumber : Kaltim Post

Previous
Next Post »