Selasa, 01 Juli 2014

Catatan Hati Muslimah

Catatan Hati Muslimah

Suamiku...
Ku ungkapkan beribu syukur kepada Ilahi Robbi, karena telah mempertemukanku dengan dirimu, karena telah mengikatkan hatiku dengan hatimu diatas ikatan suci pernikahan. Masih teringat dengan jelas diawal pertemuan kita disaat dirimu melamar ku dengan ditemani Ustadz, keluarga serta beberapa temanmu. Dengan kalimat terbata engkau ungkapkan "Bismillah... Aku telah mendapatkan informasi dari sahabatku akan dirimu yang penuh ketaatan dan ketakwaan. Akupun telah beristikhoroh dan semakin kuat keinginanku untuk meminangmu. Aku bukanlah laki-laki yang bergelimang harta, namun dengan bekal ketaatan kepada Alloh aku meminangmu."

Tak terasa empat tahun telah berlalu. Kini aku telah melahirkan buah cinta kita. Sekarang semakin ku kenal dirimu sebenarnya. Sangat sulit ku ungkapkan dengan lisan maupun tulisan akan dirimu. Yang selalu ku ingat hanya senyummu yang membuatku semakin serba salah disaat kulakukan keteledoran. Pun disaat ku lalai dalam menjaga sholat tepat waktu karena terbawa sikecil, dirimu hanya membelai pipi ku sambil tersenyum. Disaat aku lupa meletakkan dompet atau handphon dan engkau menemukannya engkau segera memberikannya pun sambil tersenyum.

Tak terasa berlinang air mata ini disaat teringat ungkapanmu dikala akan meninggalkan ku demi tugas dakwah di jalan Alloh. "Maaf umi, abah belum bisa memberikan banyak kemudahan untuk umi, tapi abah selalu merepotkan umi untuk mengurus sikecil, do'akan semoga abah tidak medholimi umi ya...".

Suamiku...
Ku rasakan sudah berlebih apa yang telah engkau berikan padaku. Dengan apa yang telah engkau berikan telah cukup untuk menutupi aurot istrimu ini dan buah cinta kita. Apa yang telah engkau cukup untuk memberikan tenaga tubuh ini untuk lebih banyak membaca AlQur'an, Sholat dan mendidik buah cinta kita. Apa yang telah engkau berikan cukup pula untuk menjaga kehormatan keluarga ini.

Suamiku...
Jikalau dirimu bisa membaca hati ini, engkau akan mendapatkan hati ini penuh dengan kebahagiaan. Masih teringat bagaimana bahagianya dirimu saat mengetahui buah cinta kita pertama kali mampu mengucapkan lafal Alloh. Sangatlah tenang hati ini dikala mendengarkan dirimu membaca AlQur'an. Betapa tentramnya hati ini dilakala mendengar dirimu terisak tenggelam dalam munajat malammu.

Suamiku...
Kutahu dirimu memang tidak banyak bicara, namun kurasakan engkau begitu perhatian. Ku tahu engkau begitu sabar membimbingku, namun ku merasakan tidak pernah engkau suruh, apa lagi engkau marahi. Ku tahu masih banyak kekurangan pada diriku, namun lagi-lagi yang kudapatkan senyummu. Ku tahu rasa letih yang engkau rasakan ketika baru pulang, namun engkau begitu ringan langsung membantu apa yang sedang aku lakukan.

Suamiku...
Dalam muhasabah ini aku memohon kepada Ilahi Robby semoga Alloh selalu memudahkan langkah suamiku dalam menapaki jalan dakwah yang penuh dengan onak dan duri ini. Semoga Alloh selalu melimpahkan kesabaran kepada suamiku untuk selalu sabar membimbing ku. Aku memohon kepada Alloh supaya buah cinta kita menjadi Mujahid yang siap menghadapi musuh Alloh.

Suamiku...
Bukanya aku menyamakan dirimu dengan Rosululloh. Namun dalam hati ini kurasakan begitu tingginya akhlaqmu, begitu dekatnya dirimu dengan Ilahi Robbi. Ada rasa khawatir dalam hati ini bila istrimu ini tidak layak menjadi bidadari pendampingmu di akhirat kelak. Karena kusadari wahai suamiku, ilmumu jauh dariku, amalanmu pun lebih banyak dariku. Namun terasa tenang hati ini disaat hal ini ku ungkapkan dihadapanmu. Engkau memberikan jawaban bak embun yang menetes di wajah ini, "Umi tahu tidak, kenapa nikah bagi perempuan merupakan separuh agamanya?, (saat itu mulutku terasa ngilu tak mampu menjawab ataupun mengangguk) itu karena dibalik suami yang hebat, pasti ada wanita yang super hebat. Karena saat abah keluar rumah, sebenarnya ummi telah banyak membantu dengan do'a dan menjaga kehormatan keluarga ini. Karena disaat abah pulang dalam keadaan capek dan membawa setumpuk masalah, ummi selalu menyejukkan dengan senyummu dan kemanjaanmu. Dan yang paling penting, karena ummi selalu memberi semangat ke abah untuk istiqomah menapaki jalan yang diridhoiNya."

Suamiku...
I love you and i miss you... 
http://www.voa-islam.com/read/muslimah/2014/07/01/31293/catatan-hati-muslimah

Previous
Next Post »