Sabtu, 09 Agustus 2014

Bontang Resmi Masuk Sistem Mahakam

Bontang Resmi Masuk Sistem Mahakam -  (  BALIKPAPAN ) Dibangun sejak 2009 lalu, Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 150 kilovolt (kV) Samarinda-Bontang yang dibangun PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) akhirnya rampung. Dengan interkoneksi yang berjalan sejak akhir Juli lalu itu, maka Kota Taman dipastikan masuk dalam Sistem Mahakam.

Jaringan yang di Samarinda mengambil titik Gardu Induk (GI) di Sambutan itu memiliki panjang sekitar 90 kilometer, dengan jumlah tower 254 unit. Manajer PLN Unit Konstruksi Jaringan Kalimantan III Agus Risfian Noor menuturkan, dalam penyelesaiannya, pembangunan SUTT tersebut terbentur sejumlah kendala, seperti pembebasan lahan.

“Jalur SUTT tersebut dibangun di atas lahan subur milik warga. Itu membuat negosiasi dengan pemilik lahan cukup alot. Belum lagi, permintaan perusahaan tambang yang akhirnya membuat beberapa titik tower direlokasi dari rencana awal,” ucapnya saat ditemui Kaltim Post, Selasa (5/8) kemarin.

Selain bagian dari upaya interkoneksi seluruh daerah di Kaltim, koneksi tersebut, kata dia, menjadi prioritas karena adanya kelebihan daya di Sistem Kelistrikan Bontang. Seperti diketahui, selain Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Gas (PLTMG), Kota Taman telah mendapat suplai listrik 10 megawatt (MW) PT Bontang Migas dan Energi (BME) sejak April lalu.

“Dengan tambahan itu, Bontang surplus daya antara 6,5-8 MW di luar masa beban puncak. Kelebihan itu kami harapkan dapat didistribusi ke Sistem Mahakam. Selama ini, karena penggunaannya lebih kecil dari suplai daya, pembangkit di sana belum bekerja optimal,” urainya.

Terkait penyebarannya, Agus menyebut tambahan daya di Sistem Mahakam itu akan diprioritaskan untuk kebutuhan konsumsi listrik rumah tangga. “Untuk kota seperti Samarinda atau Balikpapan, 8 MW mungkin hanya cukup untuk satu kecamatan,” lanjutnya.

Masuknya pasokan daya ke Sistem Mahakam itu dipastikan dapat menghemat penggunaan bahan bakar, yang beralih dari minyak ke gas. Dari transmisi tersebut, Agus menyebut, PLN dapat menghemat Rp 300 juta per hari atau Rp 9,4 miliar per bulan. “Dengan asumsi selisih biaya pokok produksi (BPP) antara BBM dan gas sebesar Rp 1.668 per kilowatt per hour (kWh),” imbuhnya.

Selain menyambung pasokan listrik Samarinda-Bontang, PLN kata dia, juga tengah menyiapkan interkoneksi dari Penajam Paser Utara (PPU) ke Tana Paser dan jaringan Bontang-Sangatta. “Mungkin PPU-Tana Paser akan selesai duluan, dan langsung tersambung ke Tanjung, Kalsel,” jelasnya.

Sedangkan koneksi Sangatta yang nantinya juga menjadi bagian dari Sistem Mahakam, masih terbentur pembebasan lahan yang masuk dalam kawasan Taman Nasional Kutai (TNK).

“Panjang rute jaringan di jalur itu sekitar 60 kilometer. Jika menghindari, kami harus memutar dengan jarak tiga kali lebih panjang. Di sisi lain, rute alternatif tersebut minim penduduk, sehingga berpotensi tak efisien,” ulasnya. (*/

Previous
Next Post »