Sabtu, 09 Agustus 2014

Tekan Impor BBM, Bangun Kilang di Bontang

Tekan Impor BBM, Bangun Kilang di Bontang - JAKARTA - Pemerintah menunjukkan keseriusan dalam upaya mengurangi impor bahan bakar minyak (BBM). Salah satunya dengan menggenjot pembangunan kilang baru di Bontang, Kalimantan Timur (Kaltim). Kini, proyek tersebut memasuki tahap penyiapan lembaga konsultan internasional dan spesifikasi teknis untuk proyek tersebut.

Dirjen Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Edy Hermantoro mengatakan, proyek tersebut dikerjakan oleh tiga BUMN di bawah Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Perusahaan itu membentuk konsorsium guna menetapkan konsultan internasional.

"Setelah ditetapkan, kami akan berkoordinasi dengan konsultan internasional terkait spesifikasi teknis kilang. Tapi, saat ini kami juga terus menyusun spesifikasi teknis kilang untuk sementara. Persiapan ini bekerja sama dengan salah satu perguruan tinggi," jelas Edy melalui keterangan tertulis kemarin (6/8).

Penentuan spesifikasi proyek kilang di Bontang, lanjut dia, memperhatikan beberapa aspek. Seperti, jenis minyak yang akan digunakan, jenis BBM yang dihasilkan dan produk petrokimia lain yang akan dihasilkan. Tujuannya untuk meningkatkan keekonomian kilang.

"Dari konsultan internasionalnya akan digabungkan dengan teknologinya. Dari sana ada perkiraan investasi yang dibutuhkan," ujarnya.

Setelah tahap tersebut selesai, pemerintah bakal menetapkan dokumen penawaran untuk calon investor. Targetnya pihaknya bakal mengajak investor untuk meninjau lahan kilang pada September 2014 nanti.
"Kami juga akan membentuk tim task force untuk membantu kelangsungan poyek. Anggotanya, antara lain, para pakar yang pernah berkecimpung dalam dunia kilang. Mereka yang sudah purna bakti, jadi kami optimalkan," jelasnya.

Dia menjelaskan, proyek kilang dengan skema kerjasama pemerintah swasta (KPS) rencananya dibangun di lahan seluas 900 hektar di Bontang, Kalimantan Timur. Lahan tersebut disediakan gratis sebagai insentif beserta tax holiday selama 15 tahun.

"Selain itu, kepastian pasokan minyak mentah juga dipastikan dari Iraq sebanyak 300 ribu barel per hari (bph)," ungkapnya.

Saat ini, lanjut dia, kapasitas kilang Indonesia mencapai 1,1157 juta bph. Itu terdiri dari kilang milik PT Pertamina seperti kilang Dumai, Sungai Pakning, Plaju, Cepu, Balikpapan, Kasim, Cilacap dan Balongan. Ditambah lagi, kilang minyak milik swasta yaitu Tuban/TPPI dan TWU.

"Satu kilang swasta masih dalam proses pembangunan. Yakni, TWU II. Juga, rencana pembangunan RFCC Cilacap," imbuhnya.

Tapi, produksi minyak Indonesia yang diolah di kilang dalam negeri juga hanya mencapai 649 ribu bph. Padahal, kebutuhan BBM dalam negeri mencapai 1,257 juta bph.

"Terjadi defisit 608 ribu barel per hari. Untuk mengatasinya, Indonesia perlu memiliki 2 kilang minyak baru," terangnya.

Dia menambahkan, pihaknya memproyeksi kapasitas kilang Indonesia diperkirakan sebesar 1,167 juta bph. Sedangkan, produksi minyak yang diolah kilang nasional mencapai 719 ribu bph.

"Kebutuhan BBM diperkirakan 1,359 juta bph. Sehingga, masih ada defisit 640 ribu barel per hari," tambahnya.

Previous
Next Post »