Jumat, 02 Januari 2015

Kreasi Lampu Tidur Benang Berwujud Tokoh-Tokoh Kartun Dari Jogja


Kreasi Lampu Tidur Benang Berwujud Tokoh-Tokoh Kartun Dari Jogja - SUDAH banyak yang mengamini, sosial media tak hanya bermanfaat untuk menja-lin silaturahmi dan membuat yang jauh terasa dekat saja. Namun juga memberikan sisi manfaat pada bidang lainnya, salah satunya bisnis online. Keuntungan dari ber-bisnis dengan memanfaatkan sosial media, selain tak perlu modal untuk sewa tempat, keuntungan lain yang paling menyenangkan yakni mudahnya membangun jaringan.

Ulfah Riza Lina dan Yoshi merupakan satu di antara sekian banyak pengguna sosial media yang merasakan manfaat dan keuntungan berbisnis di dunia maya. Tapi bedanya, kedua anak muda ini memasarkan produk buatannya sendiri. Sementara banyak pengguna sosial media yang hanya menjadi reseller saja.“Awalnya kita pasarkan lewat facebook, dari situ banyak orang tertarik dan jadi re-seller produk kami, baik dari Jakarta, Makas-sar, Kalimantan hingga Sumatera,” ujar Ulfah saat ditemui di rumah produksinya, Jalan Sumatera, Jalan Kaliurang KM 6,8, Sleman, Jogjakarta.

BISNIS ONLINE: Ulfa Riza Lina dan Yoshi dengan produk lampu tidur benang berwujud tokoh-tokoh kartun karyanya.

Sering Kewalahan, Manfaatkan Online hingga Keluar Jogja

Dikenal sebagai kota pelajar, tak heran jika di Jogja banyak anak-anak muda yang mengeksitensikan diri dengan berkreativitas. Ulfah Riza Lina dan Yoshi salah satunya. Keduanya kompak terjun ke bisnis kreatif lewat produk lampu tidur benang.
Produk yang mereka buat yakni lampu tidur benang. Seperti fungsinya, lampu ini digunakan sebagai penerang ruangan saat jam tidur. Namun material yang digunakan yakni benang. Bentuknya cukup kreatif dengan mengadaptasi berbagai bentuk ka-rakter, terutama tokoh kartun.Ide pembuatannya, muncul saat keduanya sedang jalan-jalan ke Pasar Beringharjo. Di pasar tradisional terbesar di Jogja ini, memang sudah ada yang menjual lampu tidur benang, hanya saja bentuknya masih sangat konven-sional

“Habis itu kita coba-coba sen-diri, lihat-lihat juga di internet. Hingga satu bulanan coba hingga dapat bentuk yang bagus,” ujar Ulfah yang mulai merintis bisnis online-nya sejak tahun 2012.Sejak produk lampu tidur be-nangnya dikenalkan lewat akun facebook, permintaan pun datang silih berganti. Hingga kini sudah banyak kenalan baru yang akhir-nya menjadi reseller produknya untuk dijual di kotanya masing-masing, seperti Jakarta dan Ma-kassar yang paling banyak pe-mesanan.

Lampu-lampu tidur buatan Ulfah dan Yoshi terbilang unik. Butuh keuletan, ketelitian dan kesabaran dalam proses pem-buatannya, agar hasilnya bisa semirip mungkin dengan karak-ter yang akan dibuat. Pasalnya, lampu tidur yang dibuat, seba-gian besar merupakan tokoh-tokoh kartun seperti Hello Kitty, Doraemon, Kero-keropi hingga gambar klub sepak bola. Proses pembuatannya pun butuh wak-tu beberapa hari, misalnya harus dijemur selama dua hari, baru setelah itu bola yang jadi rangka bentuk dikeluarkan sebagai tem-pat masuk lampu.

Di awal produksi sempat kewa-lahan, karena untuk produksi semua masih dikerjakan sendiri. Hasil terbaik dan semirip mungkin yang dituju. Setiap minggunya, Ulfah dan Yoshi setidaknya harus menyiapkan 50-100 produk un-tuk dijual lewat reseller dengan harga berkisar Rp 35.000 hingga Rp 80.000, berukuran diameter 9 hingga 17 cm.

“Kalau pas banyak pesanan dibantu ibu dan saudara, ka-rena kita sistemnya belum bisa ready stock,” ujar mahasiswi UNY ini. Saat ini, pembuat lampu tidur benang sudah cukup ba-nyak, tak dipungkiri persaingan pun semakin ketat. Namun, te-rus memperbaharui produk dengan inovasi bentuk meru-pakan cara kedua bertahan agar pesanan terus berdatangan. Ba-hkan keduanya juga ingin mengembangkan produk tak hanya lampu tidur saja. Karena ada anggapan, jika naik cepat, maka turunnya pun akan cepat.

“Kita berusaha berikan bentuk-bentuk baru, kekhawatiran kami tentu ada, namun kami yakin pa-sar pun tetap akan ada. Di Jogja sendiri, setiap tahunnya ada ma-hasiswa baru, itulah pasar yang kami bidik,” ujar Yoshi yang juga mengenalkan produknya lewat pameran, seperti di Festival Ke-senian Yogyakarta (FKY).Meskipun sudah dapat menik-mati hasil usaha dan jerih pay-ahnya, keduanya masih meny-impan impian, yakni memiliki toko offline. “Ya, semoga bisa punya toko sendiri, bisa punya karyawan banyak, jadi bisa ng-embangin produk juga,” tambah Yoshi. (*/laz/ong)

Previous
Next Post »