Rabu, 08 April 2015

Anies: Ujian Nasional Berbasis Komputer Bukan Daring

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan menegaskan inovasi yang dilakukan kementeriannya merupakan ujian nasional (UN) berbasis komputer, bukan berbasis dalam jaringan (daring) Internet atau online.

"Jadi ini bukan ujian nasional online, tetapi menggunakan komputer. Ujian nasional berbasis komputer. Ini kan tidak tersambung dengan Internet, tetapi pakai jaringan wilayah lokal atau LAN. Jadi, jangan keliru," katanya di Istana Wakil Presiden Jakarta, Rabu.

Dia menjelaskan, para siswa dalam pengerjaan soal-soal ujian nasional tersebut akan menggunakan komputer dalam jaringan lokal (local area network/LAN) sebagai pengganti lembar soal dan lembar jawaban.

Sejumlah komputer yang digunakan, menurut dia, harus terhubung satu sama lain dengan pusat komputer (server) guna mengoperasikan soal ujian nasional bagi masing-masing siswa.

"Komputer yang digunakan itu bukan berdiri sendiri, artinya harus ada jaringan internalnya, yang terhubung dengan server sehingga nanti dimasukkan bahan ujiannya," kata Anies.

Jumlah komputer yang diperlukan untuk pelaksanaan ujian nasional sedikit-dikitnya satu unit untuk tiga siswa.

"Jadi, rasionya itu satu komputer untuk tiga siswa. Kalau di satu sekolah ada 100 siswa, berarti minimal ada 35 komputer di sekolah itu untuk melaksanakan UN berbasis komputer ini," ujarnya.

Dari 70.000 lebih sekolah yang akan menggelar ujian nasional, Kemendikbud menawarkan sistem ujian berbasis komputer, dan ada 720 sekolah yang bersedia menyelenggarakannya.

Setelah dilakukan verifikasi sumber daya manusia dan infrastruktur, Kemendikbud mendapati hanya 585 sekolah yang memenuhi syarat untuk mengikuti UN berbasis komputer.

Kemdikbud mensyaratkan, setiap sekolah yang diizinkan menerapkan UN berbasis komputer harus memenuhi ketersediaan komputer, operator server maupun jaringan (network)-nya memadai, kesiapan guru, siswa dan orang tua murid.

"Sekolah yang mau melaksanakan UN berbasis komputer ini harus ada kesiapan dan kesediaan dari guru, murid dan orang tua. Jadi, semua harus bersedia dulu. Baru kemudian kita lakukan verifikasi lanjutan mengenai network-nya, ketersediaan unit komputernya, sistemnya, dan keahlian operatornya," demikian Anies Baswedan.
(antara)

Previous
Next Post »