Sabtu, 25 April 2015

Bisnis McDonald's Goyah, Lirik Strateginya (1)

Perfoma bisnis McDonalds’s pada tiga bulan pertama 2015 ini, kurang menguntungkan. Manajemen pun terpaksa menutup sebanyak 350 restorannya yang tersebar di Amerika, Jepang dan China.

Saat ini manajemen McDonald’s masih terus berupaya memulihkan situasi anjloknya penjualan makanan cepat saji. Dari goyahnya bisnis McDonald’s ini bisa diambil beberapa pelajaran, di antaranya strategi menghadapi kendala bisnis.

Pendiri McDonald’s, Ray Kroc, pernah berkata, “Jika Anda tidak berani mengambil risiko, Anda akan mendapatkan 'neraka' saat keluar dari bisnis Anda." Maka risiko bisnis merupakan tantangan yang perlu dilalui dengan baik.

Risiko menutup 350 gerai merupakan bagian dari strategi yang ditempuh manajemen untuk menghentikan kerugian yang lebih dalam lagi. Rencananya pada 4 Mei mendatang, CEO McDonald’s Steve Easterbrook akan mulai merinci strategi baru untuk memulihkan kondisi turunnya penjualan.

Kendati demikian, Managing Director Hedgeye Risk Management, Howard Penney, memberikan beberapa saran dan skenario sementara agar McDonald’s sebagai perusahaan yang tercatat New York Stock Exchange bisa kembali bangkit. Hedgeye merupakan sebuah perusahaan investasi riset yang berbasis di Connecticut, Amerika. Howard Penney mengepalai penelitian industri restoran. Berikut uraiannya seperti dikutip Fortune.com, Sabtu (25/4/2015).

Pertama, kembali jual minuman berbasis espresso


Prioritas nomor satu adalah untuk me-reset tren penjualan di tujuh pasar global utama. Penjualan yang masih positif pada segmen toko yang sama adalah minuman berbasis espresso.

“Kami akan menunggu dan melihat apakah perusahaan berencana untuk melakukannya, tetapi tema yang menyeluruh adalah bahwa McDonald harus fokus pada prinsip, ‘mundur selangkah untuk tumbuh pesat’," ujarnya.

Dengan kata lain, dia menyarankan untuk me-review menu. Untuk pasar Amerika Serikat (AS), penghapusan yang dianggapnya kesalahan paling besar dalam sejarah perusahaan yaitu menghapus minuman berbasis espresso.

Miniman espresso tersedia di McCafe. Biaya franchise McCafe sekira USD100 ribu dolar per toko untuk menerapkan penjualan minuman berbasis espresso. Franchise dinilai berjalan baik dan sesuai target penjualan. Sudah waktunya bagi McDonald untuk fokus pada hal tersebut, bukan berpura-pura menjadi sesuatu yang tidak pasti untuk menghadapi kompetitor, yaitu Starbucks.

Kedua, Jangan masuk ke bisnis real estate

Investor di Wall Street tampaknya terobsesi dengan gagasan bahwa perusahaan akan meningkatkan nilai pemegang saham dengan memanfaatkan neraca atau membentuk Real Estate Investment Trust (REIT), yang oleh hukum harus membayar setidaknya 90 persen dari penghasilan kena pajak kepada pemegang saham sebagai dividen.

Hal menguntungkan seperti ini terdengar, tidak mungkin terjadi. Mengambil dan memanfaatkan tambahan saat margin menurun akan memberikan tekanan pada profitabilitas dan akan menimbulkan risiko keuangan yang tidak perlu. “Jangan sampai ada McREIT,” imbuh dia.
( economy.okezone )

Previous
Next Post »