Sabtu, 25 April 2015

Bisnis McDonald's Goyah, Lirik Strateginya (2)


McDonald’s tengah menghadapi masalah koreksi penjualan yang signifikan. Bahkan, akibat kondisi ini McDonald’s terpaksa menutup 350 gerainya di Amerika Serikat, China dan Jepang.

CFO McDonald's, Kevin Ozan mengatakan, pada kuartal pertama terjadi penurunan penjualan di China turun 4,8 persen. Pun demikian dengan pasar Amerika yang terkoreksi 2,3 persen. Sementara yang besar terjadi di Jepang. Sayangnya tidak disebutkan persentase penurunan penjualan di Negeri Sakura tersebut.

Sekadar diketahui, nama McDonald's tercoreng akibat kelalaian keamanan makanan. Di Jepang ditemukan gigi manusia pada daging hamburger BigMac. Setelah ditelusuri tidak ada staf karyawan atau pemasok makanan, yang kehilangan gigi. Selain itu, salah satu bibir pelanggan mengalami luka setelah tergores plastik saat menyantap menu es krim Sundae.

Saat ini manajemen McDonald’s masih terus memutar otak agar bisa bangkit dari kendala tersebut. memulihkan situasi anjloknya penjualan makanan cepat saji. Dari goyahnya bisnis McDonald’s ini bisa diambil beberapa pelajaran, di antaranya strategi menghadapi kendala bisnis.

Managing Director Hedgeye Risk Management, Howard Penney, memberikan beberapa saran dan skenario sementara agar McDonald’s sebagai perusahaan yang tercatat New York Stock Exchange bisa kembali bangkit. Hedgeye merupakan sebuah perusahaan investasi riset yang berbasis di Connecticut, Amerika. Howard Penney mengepalai penelitian industri restoran. Berikut uraian lanjutannya seperti dikutip Fortune.com, Sabtu (25/4/2015).

Ketiga, Memotong biaya administrasi

Ada kesempatan bagi McDonald untuk memotong biaya umum & administrasi. Ini akan menjadi tantangan terbesar bagi CEO baru Steve Easterbrook. Situasi ini merupakan momentum bagi Easterbrook untuk membuat perubahan wilayah operasional yang tidak efisien dan tidak perlu.

Dia menyarankan agar perusahaan harus lebih memaksimalkan alokasi sumber daya dan sumber daya keuangan. Serta kembali berinvestasi agar perusahaan kembali stabil.

Keempat, antisipasi waralaba

CEO baru harus membangun kembali hubungan baik perusahaan dengan pemilik atau operator McDonald’s. Mengingat betapa banyak bisnis iklan telah berubah sejak McDonald didirikan pada tahun 1940.

Berdialog dengan pemilik gerai guna membahas pendekatan pemasaran yang lebih sesuai restoran di setiap wilayah.

Kelima, sistem jemput bola

Industri kuliner saat ini tengah berkompetisi untuk jemput bola pesanan pelanggan melalui ponsel, seiring dengan meningkatnya akses internet. Howard Penney menilai, McDonald’s terlambat untuk menangkap peluang tersebut. Fenomena ini menggambarkan betapa terlambat perusahaan tersebut dalam hal inovasi.

Ini adalah kenyataan bagi perusahaan dan terutama direksi tentang perkembangan aplikasi global. Kendati demikian, McDonald’s menyatakan siap meluncurkan aplikasi dalam beberapa bulan ke depan, di masing-masing negara. Aplikasi ini kemungkinan akan diselenggarakan di Amerika Serikat musim panas ini.

“Kami berharap hal terbaik ke depannya untuk McDonald,” tutup dia.

Previous
Next Post »