Selasa, 05 Mei 2015

4 Tip Agar Bisnis Online Laris Manis

Memasarkan produk secara online merupakan strategi untuk menjaring konsumen yang mayoritas telah memanfaatkan teknologi informasi dalam setiap kegiatannya.

Namun, untuk meyakinkan konsumen online juga tidak mudah. Apalagi, banyak kasus penipuan yang berkedok jual beli online. Untuk itu perlu dilakukan beberapa strategi agar masyarakat percaya terhadap produk atau jasa yang ditawarkan.

Dalam konferensi yang diselenggarakan Google Indonesia dengan tajuk Gapura 2015, dipaparkan setidaknya ada empat poin yang bisa memaksimalkan peluang bisnis di ranah online, sekaligus meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap pelaku usaha.

Keempat poin tersebut antara lain, Pertama, kehadiran profil bisnis secara online. Kedua, keterbukaan perlaku usaha tentang bisnisnya. Ketiga, keamanan pembiayaan, dan terakhir legalitas yang menyangkut izin usaha.

Kehadiran Secara Online

Product Marketing Manager Small Medium Business Google Indonesia Mira Sumanti mengatakan saat ini pelaku usaha di Indonesia sudah banyak yang mulai memanfaatkan internet sebagai perangkat untuk mengembangkan bisnisnya.

Hanya saja, apa yang telah dilakukan selama ini belum optimal, apalagi jika bisnis online hanya dikelola ala kadarnya, tanpa adanya perencanaan dan konsep yang matang untuk menghadirkan profil bisnis kepada konsumen.

“Sekarang sudah saatnya pelaku usahayang telah memanfaatkan internet untuk menjalankan bisnisnya, melangkah ke tingkat yang lebih tinggi. Bagaimana supaya bisa mengoptimalkan seluruh sumber daya yang dimiliki termasuk pemasaran secara online,” katanya.

Kehadiran secara online atau online presence tersebut bisa dilihat dari bagaimana pelaku usaha mengelola profil bisnisnya dengan menampilkan informasi yang akurat dan relevan. Sehingga konsumen bisa mendapatkan seluruh informasi yang dibutuhkan terkait operasional bisnis.

“Masyarakat akan lebih percaya kepada pelaku usaha yang menyantumkan semua profil bisnisnya secara lengkap, seperti mulai dari jam buka operasional, no telepon, alamat lengkap hingga petunjuk menuju lokasi,” katanya.

Transparansi Bisnis

Selain itu, pelaku usaha juga harus membuka kesempatan konsumen untuk berinteraksi. Hal itu sebagai salah satu bentuk implementasi dari keterbukaan dan transparansi bisnis.

Konsumen akan lebih senang jika bisa memberikan ulasan terhadap produk, jasa atau layanan yang diberikan, baik merupakan tanggapan positif ataupun negatif.

Dari kedua jenis ulasan tersebut, masing-masing memiliki kekuatan. Ulasan yang bernada positif akan memberikan kekuatan dan meningkatkan kepercayaan calon konsumen lainnya terhadap bisnis, sedangkan review negatif yang dapat ditanggapi dengan baik bisa dijadikan sebagai umpan untuk perbaikan layanan.

“Jangan takut akan ada komentar negatif, hal itu itu malah menjadi tantangan supaya bisnis yang dijalankan terus berimprovisasi. Tidak perlu takut jika kita sudah memberikan pelayanan yang terbaik,” imbuhnya.

Kedua hal tersebut, saat ini dapat diakomodasi oleh fitur yang diluncurkan Google dengan nama Google My Business, atau Google Bisnisku. Setelah pelaku usaha mendaftar secara gratis, mereka bisa memiliki profil yang dapat diakses oleh siapapun melalui mesin pencari Google.

Dengan Google My Business, calon konsumen yang mencari layanan sebuah bisnis akan disuguhkan informasi terkait profil usaha, hingga bisa memberikan penilaian atau komentar dan berinteraksi langsung dengan pemilik usaha.

“Pelaku usaha yang sudah terdaftar pada Google Bisnisku bisa dengan mudah memutakhirkan seluruh informasi yang berkaitan dengan bisnisnya, mulai dari lokasi dan tempat usaha, hingga jam operasional,” imbuhnya.

Keamanan Pembayaran

Di samping itu, salah satu hal yang tidak bisa dipisahkan dari dunia bisnis, apalagi secara online adalah masalah pembayaran. Jaminan proses pembayaran yang aman dan mudah juga menjadi poin yang diperhatikan masyarakat saat akan melakukan transaksi.

“Selama ini, pelaku start-up cenderung melakukan transaksi dengan memanfaatkan transfer via ATM, bahkan cash on delivery,” papar Dhenu Wiarsandi, Head of Business Development Doku.

Dengan konsep pembayaran tersebut, UKM bisnis online di Indonesia belum sepenuhnya menerapkan e-commerce, karena metode pembayaran yang masih konvensional.

Untuk itu, para pelaku usaha didorong untuk mulai memanfaatkan metode pembayaran online, sehingga bisa melangkah kepada sistem e-commerce yang sesungguhnya.

“Sudah banyak fitur yang sediakan untuk pembayaran online, sepertie-wallet yang memudahkan transaksi penjual dan pembeli tanpa harus ribet ke ATM atau ketemuan,” katanya.

Dhenu juga menjelaskan Doku Wallet saat ini telah membuat online payment yang bisa dimanfaatkan siapa saja yang berbisnis melalui media sosial. Hal itu membuat penjual cukup memasang tautan pembayaran pada akun media sosialnya dan akan terhubung langsung ke halaman akun Doku Wallet.

“Pelaku usaha atau pembeli tidak perlu menghafal nomor rekening atau akun dompet digital milik Anda, karena uang bisa dikirim via akun media sosial,” katanya.

Izin Usaha

Hal terakhir yang tak kalah pentingnya untuk meraih kepecayaan konsumen adalah dengan adanya izin usaha dari pemerintah. Belum lama ini, Kementerian Koperasi dan UMKM, telah meluncurkan aplikasi mobile yang memungkinkan pelaku usaha mendaftarkan usahanya dengan mudah.

Asisten Deputi Urusan Peran Serta Masyarakat Kementerian Koperasi dan UKM Budi Mustopo mengatakan kemudahan pengurusan izin usaha kecil menengah (IUKM) tersebut merupakan salah satu langkah strategi untuk mewujudkan program Satu Juta UMKM Naik Kelas.

“Legalitas usaha UMKM menjadi prioritas agar dapat berkembang. Termasuk legalitas untuk mendapatkan akses permodalan di perbankan", katanya.

Sementara itu, beberapa indikator yang menjadi kategori UMKM naik kelas, di antaranya total penjualan meningkat, jumlah pelanggan yang dilayani meningkat, juga peningkatnan dana yang dapat diakses dari perbankan.

“Pemilik usaha yang memiliki izin usaha cenderung lebih dipercaya masyarakat dan perbankan sehingga bisa mencapai indikator-indikator untuk naik kelas,” katanya.

Berbagai langkah dan cara yang bisa dilakukan oleh para pelaku usaha tersebut, merupakan strategi untuk meningkatkan kapasitas dan produktivitas menjelang pemberlakuan Masyarakat Ekonomi Asean.

Selain itu, bukan hanya untuk mendorong meningkatnya jumlah wirausahawan di Indonesia, tetapi juga untuk meningkatkan kualitas bisnis dengan memanfaatkan teknologi yang terus berkembang.Berdasarkan data riset dari Access Markets International (AMI) pada tahun 2013 terdapat sedikitnya 55,2 juta UMKM di Indonesia, namun hanya sekitar 75.000 UMKM yang memanfaatkan internet. Padahal 4,6 juta pengguna internet di Indonesia aktif melakukan transaksi belanja online.

Nenden Sekar Arum (Bisnis.com) - Tempo.co

Previous
Next Post »