Kamis, 21 Mei 2015

Beras Plastik Belum Tuntas, Kini Muncul Susu Bubuk Campur Deterjen

Penemuan beras plastik yang baru saja terjadi di Bekasi dan fenomenanya yang sudah marak di Asia, menambah kekhawatiran masyarakat akan kesehatan makanan terkait isu pemalsuan makanan.

Tidak cuma beras plastik, Tiongkok, negara yang mempopulerkan beras palsu itu, bahkan sudah lebih 'maju' dalam hal pemalsuan makanan.

Beberapa di antaranya yang sempat terdengar adalah telur dan susu bubuk melamin.

Namun, melamin ternyata bukan satu-satunya bahan yang ditemukan di dalam susu bubuk palsu.

Di India bahkan ditemukan susu bubuk yang bercampur bubuk deterjen.

Hukuman Penjara Seumur Hidup

Pemerintah India melaporkan pada Selasa (12/05/2015) lalu bahwa survey dari Food Safety and Standards Authority of India (FSSAI) menyatakan lebih dari setengah total 1.791 sampel susu yang didapat di 33 wilayah bagian tidak memenuhi standar.

"68,4% dari sampel ditemukan tidak memenuhi standar yang telah ditentukan," jelas Menteri Kesehatan dan Kesejahteraan Keluarga J. P. Nadda.

Ia juga mengatakan bahwa 44,69% dari sejumlah sampel susu bubuk skim ditemukan tidak memenuhi standar karena terdeteksi adanya glukosa.

Sementara 5,75% dari sampel itu ditemukan adanya campuran deterjen.

Menanggapi hasil survey ini, Nadda mengatakan bahwa akan diberlakukan sanksi khusus untuk aksi pelanggaran standar dan regulasi kesehatan.

Sanksi yang dikenakan termasuk hukuman penjara seumur hidup.

"Dalam kasus di mana sampel ditemukan tidak sesuai dengan ketentuan UU, Peraturan, serta Regulasi, tindak pidana (terkait) akan dikenakan pada pelaku," ucapnya lagi kepada Press Trust of India.

Bahaya Beras Plastik

Seperti diberitakan sebelumnya, heboh beras plastik terjadi di Bekasi. Seorang penjual bubur di Mutiara Gading, Bekasi Timur, Dewi Septiani (29), menemukan butiran-butiran beras yang diduga terbuat dari plastik.

Dewi meyakini adanya perbedaan, setelah dua kali mengolah beras yang dibelinya itu. Kejadian ini meresahkan banyak orang. Pasalnya, beras tersebut tak dapat dibedakan secara kasat mata, karena bentuknya sangat mirip.

Menurut dr. Jenni M. Gizi, SpGK, plastik adalah bahan kimia yang tak layak untuk dimakan.

Efeknya akan menimbulkan gangguan pencernaan.

Lambung yang bertugas mengolah makanan, harus bekerja lebih keras mengolah benda asing yang belum tentu bisa dihancurkan dalam tubuh.

Gangguan pencernaan yang terjadi pun, ada jangka pendek maupun jangka panjang.

Gangguan jangka pendek yang bisa terjadi di antaranya diare, mual, kembung, dan muntah.

Sedangkan, efek jangka panjangnya adalah kanker.

“Benda asing, dalam hal ini adalah plastik yang masuk ke tubuh, kan sifatnya kimiawi dan sintetik. Umumnya, bahan kimia mengandung karsinogen, inilah yang nantinya bisa memicu tumbuhnya sel-sel kanker dalam tubuh. Kenapa sekarang ini, penyakit kanker semakin banyak? Salah satunya, ya karena adanya bahan-bahan kimia yang masuk ke dalam tubuh. Misalnya, konsumsi gorengan yang digoreng dengan campuran minyak dan plastik, ” ujar dr. Jenni.

Previous
Next Post »