Minggu, 31 Mei 2015

Kurangi Efek Samping Kemoterapi Dengan Kulit Jeruk Purut

Saat ini kemoterapi banyak digunakan untuk penyembuhan kanker, namun dapat menimbulkan efek samping, yakni penurunan sistem kekebalan tubuh.Jeruk Purut merupakan salah satu tanaman perdu yang dimanfaatkan pada buah dan daunnya. Namun untuk bahasan kali ini, disini kami akan membahas tentang salah satu manfaat serta khasiat yang bisa didapat dari salah satu jenis jeruk yang banyak digunakan daunnya untuk bumbu atau bahan rempah masakan. Jeruk purut mempunyai naman ilmiah Citrus × hystrix dan tergolong dalam klasifikasi kerajaan tumbuhan Plantae.

Hal ini menjadi perhatian Herwandhani Putri, Standie Nagadi, dan Ifani A. Saktiningtyas. Ketiga Mahasiswa Farmasi UGM ini akhirnya menemukan potensi kulit jeruk purut sebagai agen imunomodulator yang bisa menekan efek penurunan sistem imun dalam kemoterapi.

“Kemoterapi merupakan terapi menggunakan obat-obatan kimia. Jenis terapi ini umumnya dijalani untuk mengobati penyakit kanker. Agen kemoterapi yang paling sering dijadikan sebagai pilihan kemoterapi adalah doxorubicin karena dapat mengobati berbagai jenis kanker,” jelas Ketua Penelitian, Herwandhani Putri, saat ditemui Harian Jogja, di Fakultas Farmasi UGM, Sabtu (18/2).

Namun ternyata penggunaan doxorubicin dapat menimbulkan berbagai efek samping antara lain kerontokan pada rambut dan penurunan sistem imun yang juga dapat menyebabkan berbagai macam infeksi. Oleh karena itu, dibutuhkan usaha mengombinasikan agen kemoterapi doxorubicin dengan senyawa lain yang bekerja secara sinergis dan mampu mengurangi efek samping doxorubicin.

“Lalu kami berusaha mencari bahan alam yang berpotensi dikembangkan sebagai agen imunoterapi pendamping kemoterapi, yakni kulit buah jeruk purut yang diketahui memiliki kandungan flavonoid,” jelasnya.

Penelitian yang berhasil meraih medali emas dalam Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional 2011 ini bertujuan mengkaji ekstrak kulit jeruk purut sebagai imunomodulator pada terapi kanker dengan menggunakan hewan uji (tikus) yang diinduksi doxorubicin. Penelitian yang selesai dalam waktu tiga bulan ini, membuktikan ekstrak kulit jeruk purut menunjukan adanya penekanan pada penurunan jumlah sel darah putih, limfosit, dan neutrofil.

“Ini artinya bahwa ekstrak kulit jeruk purut dapat menekan penurunan sistem imunitas tubuh,” kata Putri .

Hal tersebut dapat terjadi karena kandungan flavonoid pada kulit jeruk purut, terutama naringenin dan hesperidin bersifat sebagai antioksidan. Antioksidan dapat menangkap radikal bebas hasil metabolisme doxorubicin. Intinya ekstrak kulit jeruk purut berpotensi sebagai agen imunomodulator pada kemoterapi kanker.

“Kami berharap ke depannya hasil penelitian ini dapat menjadi dasar penelitian selanjutnya. Nantinya ekstrak kulit jeruk purut dapat menjadi produk yang dapat digunakan secara klinis sebagai agen imunomodulator pendamping kemoterapi,” pungkasnya. (JIBI/Harian Jogja/

Previous
Next Post »