Senin, 22 Juni 2015

Anak-anak Sudah Terbiasa Lihat PSK Layani Tamu di Kawasan Ini

Anak-anak Sudah Terbiasa Lihat PSK Layani Tamu di Kawasan Ini - Aroma pantai menyapa hidung saat tiba di RT 08, Kelurahan Sumber Jaya, Kecamatan Kampung Melayu, Kota Bengkulu. Daerah ini merupakan kawasan prostitusi, meski warga setempat dan pemerintah menyebutnya eks-lokalisasi.

Sapaan genit perempuan di lokasi itu menyambut kedatangan Kompas.com. Beberapa rumah yang dimodifikasi menjadi kafe dan beroperasi pada malam hari tampak sudah mulai tak terawat.

"Sudah mulai sepi, sudah banyak pulang," kata Ni, salah seorang mucikari setempat, Senin (22/6/2015).

Namun beberapa pemandangan menarik perhatian di kawasan itu yakni tampak puluhan anak bermain bebas di lokalisasi itu. "Mereka anak warga sini, ada juga anak para PSK," ungkap Ni.

Ia mengaku baru mengetahui berapa jumlah anak, baik yang belum sekolah atau sudah sekolah di lokasi itu. "Banyak anak-anak itu, jumlahnya puluhan," tambah Ni.

Ni mengaku punya tiga orang anak kandung yang lahir dan besar di kawasan itu. Ia mengaku anak-anaknya tak terpengaruh dengan aktivitas di lokasi prostitusi itu.

"Mereka biasa, malam belajar, malah anak saya yang bungsu selalu berada di peringkat sepuluh besar di sekolah, kakaknya masih kuliah, tak berpengaruh," sebut Ni.


Ni juga mengakui aktivitas keintiman para PSK menemani para tamu bernyanyi dan lainnya kerap dilihat oleh anak-anak. Namun, sejauh ini ia memastikan fenomena itu tak mempengaruhi perkembangan anak-anaknya, terutama dalam hal pendidikan sekolah. Ni juga mengaku beruntung ia memiliki rumah yang terpisah dari bisnisnya meski masih berada dalam satu komplek.

Namun berdasarkan pantauan Kompas.com, banyak anak yang hidupnya bersatu antara rumah dan tempat hiburan, seperti kafe.

Sa, seorang siswi kelas V, bocah setempat, menyebutkan ia sudah terbiasa akrab dengan PSK di lokasi itu, Sa memanggil PSK itu tante. Saat ditanya apakah Sa tahu apa pekerjaan para tante di lokalisasi itu, ia tak menjawab. Sa tampak seperti anak kebanyakan, manja pada ibunya, sesekali ia merayu ibunya untuk dibelikan takjil untuk berbuka puasa.

Bangun PAUD

Ni dan warga setempat berharap pemerintah Kota Bengkulu dapat membangun sarana pendidikan, terutama PAUD untuk anak-anak di lokasi tersebut.

"Kami juga butuh PAUD, banyak anak-anak di sini sekolahnya jauh keluar, kasihan dan butuh tambahan uang untuk bayar ojek," lanjut Ni.

Direktur LSM Kantong Informasi Pemberdayaan Kesehatan Adiksi Masyarakat, Merly Yuanda yang konsen terhadap pendampingan di kawasan tersebut mengungkapkan, pemerintah memiliki tanggung jawab penuh atas keberlangsungan pendidikan anak-anak di wilayah itu.


"Anak-anak di lokasi itu perlu perhatian penuh dari pemerintah karena secara psikologis mereka rentan, diperlukan pendekatan yang baik dari pemerintah," ujar Merly.

Merly juga membenarkan bahwa kebutuhan para warga dan anak-anak di lokasi itu adalah lembaga pendidikan usia dini.

"Kami pernah usulkan pendirian PAUD ke pemerintah namun hingga kini belum ada respons," jelas Merly.

Ia berharap pemerintah dapat memberikan perhatian khusus terhadap puluhan anak di wilayah tersebut dengan menggunakan berbagai pendekatan. Di kawasan ini terdapat tidak kurang dari 200 pekerja seks komersil (PSK) yang beroperasi secara rutin. Untuk menekan penularan HIV/AIDS, pemerintah dan beberapa LSM turun melakukan pemeriksaan kesehatan para PSK secara berkala..//kompas.com//

Previous
Next Post »