Jumat, 05 Juni 2015

Di Jamin Kamu Akan Malu Plus TerMOTIVASI , Yuk Tonton Video nya

Di Jamin Kamu Akan Malu Plus TerMOTIVASI , Yuk Tonton Video nya - Gadis nan cantik ini tetap sunggingkan senyumnya saat melangkah pasti dan percaya diri ketika namanya disebut oleh pembaca acara ke atas panggung acara Impian Tiongkok.

Wajah nan putih bersih, tubuh yang proporsional dan rambut panjang sebahu diikat, semakin membuatnya percaya diri. Padahal, kedua tangannya tidak ada lagi.

Yang Pei, 24 tahun, demikian ia memperkenalkan dirinya kepada penonton ketika pembaca acara menanyakan nama dan umurnya. Lagi-lagi, senyuman manisnya ia persembahkan untuk semua orang.

Impiannya sejak kecil adalah membuka toko sulaman yang kecil. Namun, bagaimana ia akan menyulam jika kedua tangannya tak ada?

Inilah pelajaran hidup yang bisa kita ambil hikmahnya dari seorang gadis bernama Yang Pei itu. Ia menceritakan awal kenapa kedua tangannya tak ada lagi.

Pembaca acara, Yali menanyakan ke Yang Pei, apakah ia menjual sulaman atau buat sendiri? Dengan tertawa diiringi senyuman manisnya, Yang Pei menjawab, sulaman hasil karyanya sendiri.


Adakah kita setabah dia?
Posted by Raja Shamri on Monday, December 15, 2014


Yang Pei menceritakan kenapa kedua tangannya tak ada lagi. Ia mengatakan, saat berumur 9 tahun, ketika ia menemani ibunya berjalan-jalan, bak anak kecil seusia itu, tak sengaja ia menarik kabel listrik dengan tegangan tinggi.

Tak ayal, kabel bertegangan tinggi itu menyengat tubuhnya yang kecil. "Saya merasakan seluruh tubuh saya terbakar. Saya kemudian tak sadarkan diri. Saat sadar, saya sudah di atas tanah dan langsung memeluk ibuku dengan menangis tak henti-hentinya," kenang Yang Pei dengan bersemangatnya.

Ia kemudian menceritakan, sejak kecil ia sangat ingin bersekolah dan memiliki teman sebanyak-banyaknya, layakanya anak-anak lainnya.

Namun, impian itu bertepuk sebelah tangan. Ia tak bisa bersekolah dan kawan-kawan seumur dirinya, enggan bertemannya dengannya.

Akhirnya, Yang Pei bertekad, ia harus hidup mandiri. Ia tinggalkan kampung halamannya dan hidup mandiri ke kota metropolitan di China, Shanghai, seorang diri.

Yang Pei harus mengangkat sendiri koper dan barang bawaannya saat tiba di stasiun kereta api. Tak hanya itu, ia juga harus memasak dan mengerjakan pekerjaan rumah sehari-hari tanpa bantuan orang lain.

Untuk menghidupi dirinya sendiri, Yang Pei yang memiliki keahlian dalam menyulam, membuka sulaman di pinggir jalan. Hasil sulamannya itu, tak kalah rapinya dibandingkan orang-orang yang memiliki bagian tubuh normal lainnya.

Yang Pei juga bercerita bagaimana rindunya yang membuncah kepada ibunya. Ia teringat, akan ibunya saat Yang Pei menyulam di udara dingin menusuk tulang. Ketika itu, ia mengenakan celana pendek.

Tiba-tiba, ada seorang ibu memberikannya baju hangat dan memasangkannya ke tubuh Yang Pei. Ibu yang baik hati itu juga memberikan uang sebesar 200 Yuan ke Yang Pei.

"Saya teringat ibu saya, ketika ibu itu memasangkan baju hangat ke tubuh saya," kata Yang Pei dengan deraian air mata.

Tanpa disadarinya, kedua orangtuanya serta seorang adiknya, telah dihadirkan ke atas panggung Impian Tiongkok itu. Keluarga Yang Pei juga tak bisa menahan deraian air mata saat mendengarkan cerita hidupnya dengan segala keterbatasan fisik dimiliki.

Cerita Yang Pei ini memberikan hikmah kepada kita, pembaca, hidup adalah perjuangan dan tak kenal lelah pantang menyerah untuk mewujudkan impian besar. Selain itu, hidup bukan diratapi dan menanti belas kasihan orang lain. (pekanbaru tribun)

Previous
Next Post »