Jumat, 05 Juni 2015

Seluk Beluk Tentang MERS Yang Perlu Anda Ketahui

Seluk Beluk Tentang MERS Yang Perlu Anda Ketahui // http://www.independent.co.uk
Seluk Beluk Tentang MERS Yang Perlu Anda Ketahui - Untuk yang masih awam soal virus MERS. Ini sejumlah hal yang harus diketahui tentang virus yang saat ini sedang mewabah di Korea Selatan tersebut.

MERS merupakan singkatan dari Middle East Respiratory Syndrome atau Sindrom Pernapasan Timur Tengah. Dikatakan Timur Tengah karena kasus pertamanya didapatkan di Arab Saudi pada akhir 2012 lalu dan kebanyakan kasusnya ditemukan di negara tersebut.

Dari mana asalnya?
Dikatakan oleh The New York Times, virus MERS pertama kali muncul dari sekumpulan kelelawar dan unta di Timur Tengah. Virus itu dipercaya mencapai manusia melalui daging dan susu unta, atau kontak dengan unta.

Sudah menyerang daerah mana saja?
Menurut Bangkok Post, MERS sudah mewabah di lebih dari 20 negara di dunia, berjumlah lebih dari 1.000 kasus dan total pasien meninggal dunia lebih dari 400 jiwa. Kasus terbanyak ada di Arab Saudi. Kini, MERS mulai menyebar di Korea Selatan. Sejumlah ahli kesehatan khawatir penyakit ini dapat mendunia melalui kegiatan umroh/haji umat Muslim di Mekkah.

Apa penyebabnya?
Penyakit ini dibawa oleh sebuah koronavirus, yang ternyata jenis virusnya masih satu famili dengan virus Sindrom Pernapasan Akut (SARS).

Apa gejala dan dampaknya ke manusia?
Gejala MERS biasanya baru terlihat lima hari hingga dua minggu setelah terinfeksi virus. Pasien positif MERS biasanya akan mengalami batuk, napas pendek, diare, demam tinggi, dan pneumonia, yang kemudian berujung pada kematian.

Bagaimana cara penularannya?
Meski tidak semudah penularan flu atau cacar, MERS biasanya menular melalui kontak fisik, darah, atau lainnya. Namun, virus ini juga dapat menginfeksi seseorang yang bernapas dengan udara yang terkontaminasi atau menghirup banyak virus MERS.

Adakah vaksin atau penawarnya?
Belum ada.

Bagaimana cara melindungi diri dan mencegah penyebarannya?
Karena bisa menginfeksi pernapasan, maka masker medis atau pelindung pernapasan harus dikenakan. Hindari melakukan kontak dengan penderita. Jika mengetahui adanya kontak, segera laporkan ke tenaga medis untuk menjalani penanganan dan karantina.
( tribunnews )

Previous
Next Post »