Jumat, 05 Juni 2015

Video Presiden Turki Salat Jumat, Tak Mau Duduk Depan Karena Terlambat



Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, dikenal sebagai sosok yang religius, tapi juga otoriter.

Kabar yang terbaru, misalnya, ia mengancam akan memenjarakan seumur hidup wartawan televisi yang menyebarkan gambar dan foto bahwa truk dari pemerintahan Turki memasok persenjataan ke Suriah.

Tapi, di sisi lain, banyak juga rakyat Turki yang memuji Erdogan sebagai pria nan merakyat dan religius.

Video ini, menjadi salah satu yang menunjukkan hal itu.

Erdogan, dengan iring-iringan pengawal, datang ke masjid untuk salat Jumat.

Tapi Erdogan sepertinya datang terlambat. Karena itu, ia menolak untuk duduk di shaf depan, sebagaimana biasanya yang dilakukan presiden atau pejabat lain.

Ia memilih untuk duduk dan salat di teras masjid.

Erdogan sepertinya memahami betul, bahwa di masjid, ketika salat Jumat atau salat berjamaah, tak ada manusia yang punya hak istimewa.

Semua dipandang sama. Sehingga, bila seorang presiden terlambat pun, mestinya juga duduk di shaf paling belakang, atau teras masjid.

Erdogan sendiri memang dikenal suka menyapa rakyatnya saat salat Jumat.

Tiap salat Jumat, Ia dikenal sering membeli dagangan penjual kaki lima di luar masjid, lalu membagi-bagikannya ke para jamaah.

Nah, bagaimana dengan para pejabat di Indonesia?

Presiden yang Ancam Israel

Recep Tayyip Erdoğan (61) adalah seorang politikus Turki. Ia menjabat Perdana Menteri Turki sejak 14 Maret 2003 sampai 28 Agustus 2014.

Ia juga seorang pimpinan Adalet ve Kalkınma Partisi (AKP, atau Partai Keadilan dan Pembangunan). Pada tahun 2010, Erdogan masuk dalam deretan muslim paling berpengaruh di dunia.

Erdogan sempat menjadi Walikota Istanbul dalam pemilu lokal pada 27 Maret 1994.

Dia dipenjara pada 12 Desember 1997 karena puisinya yang bermasalah. Setelah empat bulan di penjara, Erdogan mendirikan Partai Keadilan dan Pembangunan (Partai AK) pada tanggal 14 Agustus 2001.

Dari tahun pertama, Partai AK menjadi gerakan politik terbesar yang didukung publik di Turki.

Pada pemilihan umum tahun 2002, Partai AK memenangkan dua pertiga kursi di parlemen, membentuk pemerintahan partai tunggal setelah 11 tahun.

Erdoğan terpilih menjadi Presiden Turki ke 12 hasil pemilihan presiden Turki yang digelar pada 10 Agustus 2014.

Erdoğan memenangi pemilihan presiden dengan perolehan 52 persen mengalahkan dua pesaingnya.


Pada 28 Agustus, Erdoğan resmi dilantik menjadi Presiden Turki ke-12. Ia dilantik di kantor kepresidenan di Ankara.

Pelantikannya akan mengantarkan pada era baru di Turki karena dia diperkirakan akan mendesak dibuatnya konstitusi baru yang bisa menstransformasi negeri itu.

Pengganti Erdogan pada kursi perdana menteri adalah Menteri Luar Negeri Ahmet Davutoğlu.

Ia dikabarkan merubah Turki menjadi lebih 'religius'. Salah satunya, mengizinkan para wanita bekerja dan bersekolah memakai hijab, yang sebelumnya dikabarkan dilarang di negara Islam sekuler tersebut.

Saat menjadi Wali Kota Istanbul, ia menjadi terkenal karena ia seorang administratur yang efektif dan populis, membangun prasarana dan jalur-jalur transportasi Istanbul dan pada saat yang sama memperindah kota itu.

Dalam prosesnya ia menjadi politikus Turki yang paling populer.

Prestasi menonjolnya yang sulit dilupakan warga adalah keberhasilan pengadaan air bersih untuk penduduk kota itu, penertiban bangunan, mengurangi kadar polusi dengan melakukan aksi penanaman ribuan pohon di jalan-jalan kota.

Ia juga memerangi praktik prostitusi liar dengan memberikan pekerjaan lebih terhormat kepada wanita muda, dan melarang menyuguhkan minuman keras di tempat umum.

Previous
Next Post »