Sabtu, 08 Agustus 2015

Bunda Sista Jangan Abaikan Ini - 6 Aturan Memakai Celana Dalam yang Sehat untuk Perempuan


Karena digunakan atau dipakai tiap hari, kerap kali orang tak peduli dengan beberapa hal mengenai pakaian hingga aturan pakainya. Termasuk juga menyoal memakai celana dalam oleh kaum wanita.

Padahal, efek kesalahan pemakaian pakaian atau celana dalam bisa sangat beragam dan tak sedikit memunculkan efek negatif. Misalnya orang yang sering salah lantaran menggunakan celana dalam yang tidak menyerap keringat pada saat berolahraga.

Padahal kondisi ini sangat ideal untuk kuman berkembang biak dan menyebabkan infeksi. Berikut beberapa aturan penggunaan celana dalam untuk wanita seperti disarikan dari Health.

Biarkan organ intim bernapas

Tak sedikit perempuan yang gemar mengenakan celana dalam ketat untuk jangka waktu yang lama. Padahal, cara tersebut adalah cara yang tak sehat untuk vagina lantaran bisa membatasi aliran udara. Jadi bukan hanya ketat tidak ketat saja, tetapi juga pemilihan bahan celana dalam.

“Bahan katun adalah yang paling baik karena membuat organ intim bisa bernapas,” kata Melissa Goist, MD ahli kandungan dari The Ohio State University Wexner Medical Center. “Bahan sintetik cenderung menahan basah. Jadi besar kemungkinan akan menyebabkan iritasi.”

Meski katun menjadi pilihan pertama untuk pakaian dalam, seringkali bahan tersebut kerap memunculkan keluhan karena akan menimbulkan kerutan yang tak sedap dipandang di baju atau gaun Anda. Tapi jangan khawatir karena ada bahan-bahan pilihan kedua yang masih bisa mentolerir keringat.

“Misalnya dari polyester, nylon, Lycra atau spandex kadang sifatnya bisa tetap tampil bagus sebagai baju dalam dan tetap menyehatkan organ intim Anda,” kata Melissa Piliang, MD, ahli kulit dari Cleveland Clinic.

Gunakan detergen yang aman untuk kulit


Dari semua jenis pakaian yang dipakai, celana dalam adalah yang paling sering dan lama melekat ke tubuh. Karenanya sangat penting untuk selalu mencuci celana dalam dengan bahan yang paling lembut.

“Saya suka detergen yang sifatnya hipoalergenik yaitu yang memang dibuat untuk kulit yang sensitif dan bebas dari parfum yang dimasukkan ke pembilas,“ kata Dokter Piliang.

Anda juga sebaiknya menghindari penggunaan pemutih untuk mencuci celana dalam. “Bukan hanya akan merontokkan serat pakaian dalam lebih cepat, tapi juga bisa membuat Anda terpapar zat kimia yang berinteraksi dengan bahan elastik dan kemudian menyebabkan reaksi alergi di kulit.” 
 
Ganti teratur


Sudah pasti siapapun sepakat dengan aturan ini. Celana dalam harus diganti, bukan hanya tiap hari melainkan ketika kondisi terasa basah. Semisal usai olahraga, terutama jika Anda cenderung mudah kena infeksi.

“Pakaian dalam bisa menjebak kelembapan,” kata Dr. Goist, sembari menambahkan bahwa bakteria dan jamur, “suka sekali berkembang biak di tempat yang hangat dan lembap.”

“Namun tak peduli apakah Anda mudah terkena infeksi atau tidak, celana dalam yang basah adalah tanda Anda harus segera mencucinya,” kata Dokter Goist.

Sangat penting untuk dicatat bahwa ketika bahan elastisnya sudah rusak, akan membuat celana jadi mudah bergerak dari tempat aslinya. "Inilah saat untuk membuangnya dan mendapatkan yang baru,” Piliang menjelaskan.  
 
Batasi penggunaan thong



 
Berdasarkan bentuk alami desainnya, celana dalam jenis thong bisa secara mentransmisikan bakteri dari usus besar ke vagina. Hal ini diungkapkan Dokter Goist usai melakukan penelitian terkait celana dalam “Potensi ini akan mengganggu hidup bakteri normal dan bahkan menyebabkan infeksi vagina dan saluran kemih," katanya.

Dan jika Anda pernah mengalami ketidaknyamanan berolahraga dengan G-string, Anda mungkin ingin menyiapkan satu ganti di tas perlengkapan olahraga Anda.

“Banyak perlengkapan olahraga yang dilengkapi dengan bagian ini,” kta Dokter Piliang.

“Bra, kaus kaki, celana pendek dan celana dalam kini juga banyak yang dibuat dalam jenis nilon yang bisa menyerap keringat. Hal terakhir yang Anda harus dihindari adalah duduk dengan celana basah, apalagi jika Anda mudah terkena infeksi.”  
 
Pelajari noda yang tertinggal 


Jangan berpikir ini adalah hal yang jorok. Karena dari noda yang tertinggal di celana dalam, sebenarnya Anda bisa diketahui banyak tentang kondisi kesehatan Anda secara keseluruhan.

“Kondisi normal bisa sangat berbeda bagi banyak orang lain,” kata Dokter Goist.

“Sering kali lendir berwarna keputihan yang muncul memang tak perlu dihiraukan. Namun jika sudah ada aroma tak sedap yang muncul atau bahkan darah  — yang bukan waktunya menstruasi — Anda harus segera menemui ahli kandungan Anda.“
 
Tahu kapan harus melepaskan


Ada beberapa ahli yang mengatakan memang ada saatnya Anda harus melepaskan celana dalam. “Saat tidur malah disarankan,” kata Dokter Goist.

Namun para ahli juga mengingatkan ada saat kapan Anda hasus mengenakannya.

“Misalnya saja saat sedang berolah aga atau mengenakan celana jin,” kata Dokter Goist.

“Gesekan akibat gerakan yang terjadi  saat Anda berolahraga dan kain jin yang keras bisa berbahaya untuk organ intim Anda. Luka lecet bisa jadi awal infeksi,” kata Dokter Goist.

“Intinya dengan banyaknya pilihan celana dalam saat ini. Anda bebas untuk memilih, yang terasa nyaman di kulit dan tubuh sekaligus yang trendi,” kata Dokter Piliang.  
 
--cnn indonesia--

Previous
Next Post »