Minggu, 21 Februari 2016

Sepenggal Kisah Dariku, Anak Muslim yang Seumur Hidup Dididik di Sekolah Katolik

Meski berasal dari keluarga Muslim, entah kenapa ibuku memilih menyekolahkanku di sekolah swasta Katolik. Ketika aku tanya, beliau beralasan: biar kamu lebih disiplin. Sekolah yang dikelola oleh seminari tersebut memang dikenal dengan disiplinnya yang tinggi di kotaku. Namun di balik keketatan peraturan itu, tentu ada banyak kehangatan yang dirasakan murid-muridnya. Tak terkecuali oleh anak Muslim sepertiku yang bersekolah di sana.

Pertanyaan yang banyak kuterima: “Waktu pelajaran Agama, kamu gimana?”

Salah satu kegiatan tapi kami yang bukan katolik tidak perlu ikut via sma-stece.tarakanita.or.id
Dari SD hingga SMA, aku tumbuh dan mengenyam pendidikan di sekolah Katolik. Selama itu pula, aku sering mendapat pertanyaan dari teman-teman di luar sekolah. “Kamu waktu pelajaran Agama gimana?” Mungkin bayangan mereka, aku harus menghafal doa-doa atau isi kitab Injil. Padahal tentu saja tidak demikian. Pelajaran Agama yang kami terima dulu lebih menyentuh universitalitas ketuhanan. Sementara untuk kegiatan keagamaan yang bersifat praktis, ada waktunya sendiri. Pada saat-saat tertentu, mereka yang Katolik akan misa di kapel, sementara kami yang non-Katolik tidak diwajibkan untuk ikut.
Untuk kegiatan agama kami yang Muslim juga punya kelas tersendiri, dengan pengajar yang disediakan juga oleh sekolah. Waktu ujian kelulusan pun, aku masih ingat ada ujian praktik sholat dan bacaan surat-surat pendek. Ini karena setiap sekolah Katolik diwajibkan oleh undang-undang untuk menyediakan kelas agama bagi para siswa yang tidak beragama Katolik, jika siswa tersebut telah mencapai jumlah tertentu di sekolah.

Meski Muslim, aku tahu rasanya jadi minoritas. Berada di antara teman-teman dengan latar belakang berbeda bikin kami paham keunikan satu sama lain.

Bisa paham keunikan satu sama lain
Bisa paham keunikan satu sama lain via smakkosayu.sch.id
Sebenarnya, bukan hanya aku yang tidak beragama Katolik di sekolah tersebut. Selain kami yang Muslim, masih ada juga teman-teman yang beragama Kristen (protestan), Hindu, Buddha, Konghucu, dan jumlahnya pun tidak sedikit. Sama seperti murid Muslim, mereka juga punya jadwal khusus untuk kegiatan keagamaan masing-masing. Tentu ini sangat menyenangkan. Saat ada hari besar keagamaan, selalu saja bergantian datang ke rumah yang sedang merayakan. Saat Lebaran, misalnya, tak sedikit teman-teman yang datang ke rumahku untuk mengucapkan selamat dan makan opor ayam di rumah. Waktu Natal atau Imlek, giliran aku yang datang untuk mengucapkan selamat dan menikmati hidangan di rumah mereka.
Memang sih, kesulitan terbesar yang aku hadapi adalah susah cari pacar yang seiman. Sekalinya ada teman keren yang ditaksir dan sepertinya dia juga suka, hanya bisa dipendam dan jadi teman. Daripada pacaran beda agama, urusannya ribet, lebih baik mencintai diam-diam. Tapi niat awal kami ‘kan memang sekolah, bukan cari pacar. Jadi hal begini disikapi santai saja. Urusan jodoh masih panjang dan sudah ada yang ngatur!

Di bulan puasa, sekolah masuk seperti biasa. Kantin juga buka seperti biasa. Kami yang muslim pun biasa saja.

Saat puasa, kantin pun tetap buka seperti biasa
Saat puasa, kantin pun tetap buka seperti biasa via www.st-albertus.sch.id
“Pas puasa kantin sekolahmu tetap buka? Terus kamu puasa?”
Tak jarang aku juga mendapatkan pertanyaan yang agak konyol semacam ini. Meski besar di sekolah Katolik, di rumah aku tetap mengaji dan mendapat pelajaran Agama Islam dari orangtua. Sepengetahuanku, puasa itu soal niat dan kalau sudah niat, mau ada apapun tetap saja tak akan tergoda. Kantin di sekolahku tetap buka seperti biasa. Tapi, itu tak menjadikanku ingin melangkahkan kaki ke kantin saat jam istirahat. Aku yang sedang berpuasa, cukup tahu diri, dengan tetap di kelas atau ke perpustakaan jika tak ingin mencium aroma makanan. Sudah tahu sedang puasa, ngapain juga lewat-lewat di sekitaran orang makan.
Tak seperti di sekolah negeri pada umumnya yang pulang lebih awal saat bulan puasa, di sekolahku kegiatan pelajaran berjalan seperti biasa. Pulang pun tetap seperti hari biasa. Tapi, itu lebih bagus bagiku, dengan banyak berkegiatan puasa jadi tak terasa. Pulang ke rumah sudah menjelang sore dan sebentar lagi berbuka. Memang sih, kadang ada perasaan mupeng sama teman-teman yang sekolahnya jadi santai waktu bulan puasa. Liburnya juga lebih panjang. Tapi manfaatnya, waktu memasuki dunia kerja, aku sudah terbiasa berkegiatan sambil puasa.

Justru rasanya bangga puasa di antara yang gak puasa. Mereka cukup menghormati, memberi selamat dan juga semangat.

Bangga sih jadi 'satu-satunya' yang puasa
Bangga sih jadi ‘satu-satunya’ yang puasa via bppmpsikomedia.wordpress.com
Tentu saja, kami yang sedang berpuasa tampak spesial di antara mereka yang tidak berpuasa. Teman-teman lain kerap sekali bertanya-tanya tentang semua ibadah kami, terutama soal puasa.
“Nanti, setelah jam 6 sore, boleh makan sampai jam berapa?”
“Makan sahur itu harus jam 3 pagi? Sampai jam berapa?”
“Kamu sikat gigi?”
“Kamu buka puasanya apa? Harus pakai kolak sama kurma ya?”
Pertanyaan yang susah dijawab tersebut kadang membuatku bangga. Iya, bangga, karena bagi mereka puasa adalah hal yang sangat berat. Sementara aku bisa dengan mudah melaluinya. Tak jarang, mereka mengungkapkan kekaguman pada kami yang kuat berpuasa satu hari penuh padahal kegiatan sekolah sedang sibuk-sibuknya.

Ternyata, berada di lingkungan dengan kepercayaan berbeda tak membuat kami lupa dengan agama masing-masing

Agama itu sola prinsip
Agama itu soal prinsip via nasional.tempo.co
Keyakinan memang soal prinsip. Meski besar di lingkungan dengan kepercayaan berbeda, tak sedikit pun aku punya keinginan untuk berpindah agama. Justru karena berada di lingkungan yang berbeda inilah, aku sadar bahwa semua agama itu punya nilai kebaikan, dan keyakinan adalah pilihan. Aku memilih meneruskan ajaran agama yang telah diwariskan oleh keluargaku.
Kalau ternyata agama itu soal prinsip, kenapa harus risih dengan segala yang berbeda?

Previous
Next Post »