Minggu, 28 Agustus 2016

Cerita Menikah Tanpa Pacaran


Niatku cuma ingin mengenang masa mudaku, belasan tahun yang lalu. Aku belum pernah sama sekali mempunyai pacar. Belum pernah juga menyatakan cinta kepada seorang wanita baik lewat lisan maupun lewat surat cinta Bagiku pacaran, no way!. 


Ini mungkin salah satu hikmah karena minder, terlahir dengan wajah, ekonomi dan kecerdasan yang pas-pasan. Jadi aku belum pernah tahu rasanya seperti apa kalau bertemu pacar, pergi bersama pacar dll. Mungkin bagi pembaca berpendapat bahwa hidupku tidak ASYIK. Jangan begitu to sobat!. Hidupku mungkin lebih asyik dari hidupmu. Hidupku penuh liku-liku, terlebih lagi saat ini. Hidupku terasa indah dan membikin bahagia saat-saat dikenang. 

Kala itu, masa muda semakin mendekati akhir, karena kuliahku di S1 di Pend B. Inggris UNS hampir kelar. September 1998 aku diwisuda tanpa didampingi pacar atau calon istri. Aku menyelesaikan study di semester 9 dengan IPK pas-pasan saja. Pikiranku, pokoknya aku harus segera lulus dan bekerja dengan penghasilan yang cukup. Aku menghibur diri, biar nilaiku pas-pasan yang penting lulus cepat sesuai rencana, karena aku kuliah dengan 100% biaya sendiri. Benar memang, hidupku di usia muda banyak beban pikiran. 

Bahkan di saat SMA pun aku sudah bekerja banting tulang. Aku harus memikirkan masalah biaya kuliah, biaya makan dan kos. Itu semua sudah membikin pikiran pusing. Jujur saja aku tidak secerdas, sesabar, dan sekuat yang kuidealkan, jadi rasanya untuk meraih prestasi akademik yang baik sangat berat. Bisa makan dan bisa sekolah saja sudah Alhamdulillah. Pacaran? bagiku itu tidak mungkin. Aku tidak setuju "Pacaran", dan aku tidak mau tambah beban dengan soal "PACAR". Sejak kuliah di semester 3 aku sudah menjadi guru privat Matematika dan b Inggris untuk para siswa SD dan SMP, juga aku memiliki usaha loper koran. Jadi aku punya keyakinan setelah lulus pasti aku akan mudah mencari kerja walau dengan nilai pas-pasan. 

Karena aku sudah memiliki jaringan kerja dan peta pekerjaan khususnya di Solo. Setelah lulus aku merasa sangat lega. Perasaan lega yang sungguh belum pernah kurasakan sepanjang hidup. Beban pikiran tentu semakin berkurang. Setelah merasa PLONG. Tiba saatnya aku menguatkan tekat dan berdoa. "Ya Allah, aku juga orang normal, yang ingin berumah tangga. Semoga dua atau tiga tahun lagi bisa, tapi aku belum pernah punya pacar atau calon istri. 

Ya Allah karuniakanlah kepadaku seorang istri nantinya istri yang shalihah, istri yang sanggup menjadi istri setia bersedia dalam keikhlasan dalam duka dan bahagia. Dan pasti istriku harus menerima apa adanya aku. Sebulan setelah wisuda ibuku sakit. Semua kakakku sudah sibuk dengan urusannya. Sehingga tidak maksimal dalam mengurusi ibuku. Karena mereka sudah memiliki anak semua. Bahkan ada di antara kakaku memiliki sepuluh anak. Aku yang diandalkan sebagi pengurus ibuku yang sakit. Tidak hanya berhari-hari, tapi lebih dari dua minggu ibuku sakit. Dan sempat juga dirawat di RSU Solo. Ada salah satu dari kakakku punya ide bahwa aku sebaiknya dinikahkan supaya ada teman untuk mengurusi ibuku yang sakit. Oh ya kakakku sebagai guru ngaji memiliki beberapa murid gadis. 

Di suatu malam kakakku mendekati aku berbicara banyak tentang masa depan, keluarga dll. Akhirnya ujung dari pembicaraannya bahwa bagaimana kalau aku mau menikahi salah satu dari pilihan kakakku yaitu muridnya yang paling baik, paling cantik menurut ukuran kakakku. Aku bingung. Belum pernah punya pacar. belum pernah ditawari pacar dan atau calon istri. Eeeh tahu-tahu aku ditawari untuk menikah. Namun, kakakku meyakinkanku bahwa salah satu yang ditawarkan kepadaku itu orang baik, cantik dan dari keluarga baik-baik, teman bergaulnya juga orang-orang baik. Setealah sholat istiharoh, dalam hatiku menjawan"pokoknya nikah saja demi kebaikan keluarga dan kesehatan ibuku". 

Singkat cerita. September 1998 aku diwisuda. 25 Desember 1998 aku melangsungkan pernikahan dengan seorang wanita yang belum pernah kukenal sama sekali. Setelah menikah, beberapa minggu kemudian ibuku sembuh dari sakitnya. Sampai saat ini pun ibuku sehat wal afiat da jarang sakit. Kini ibuku usianya sekitar 90 tahun tinggal dalam satu atap dengan keluargaku dan keempat anakku. 

Hidup kami sekeluarga Insya Allah hidup yang sakinah, mawadah dan warrahmah. Menurutku kisahku membawa hikmah, pertama pacaran cenderung mendekati KEHARAMAN. Untuk bahagia dalam berkeluarga tidak harus melalui jalur pacaran. Kalau kita ingin tahu siapakah calan suami atau istri cukup dengan investigasi siapakan sobat dekatnya dan siapa keluarganya . 

Kedua jika kita ingin hidup lebih baik dari pada sebelumnya, kita butuh pengorbanan, daya tahan, ketabahan, kekuatan dll. . Walau sebenarnyakita tidak sabaran, ya seharusnya disabar-sabarkan. Walau kita sebenarnya lemah, semestinya dikuat-kuatkan. Walau kita miskin, ya dinekat-nekatkan supaya kita semakin baik ekonominya. SALAM SUKSES SEJATI

Sumber : kompasiana

Previous
Next Post »