Kamis, 25 Agustus 2016

Siapa Mukidi? Inilah 'Mukidi' yang Sedang 'Mengocok Perut' Netizen Indonesia

Siapa Mukidi? Inilah 'Mukidi' yang Sedang 'Mengocok Perut'

Mukidi, nama yang sedang ramai menjadi perbincangan pada media sosial dan grup perbincangan pada aplikasi pesan instan.

Siapa Mukidi?

Jika mengacu pada perbicangan pada media soal dan grup pebincangan, maka dia adalah sosok fiksi dalam sejumlah kisah humor.

Ini di antarnya:

"Mukidi lapar ........Mukidi masuk ke sebuah rumah makan. Ia memesan ayam goreng. Tak lama kemudian sebuah ayam goreng utuh tersaji. Baru saja Mukidi hendak memegangnmya, seorang pelayan datang tergopoh-gopoh.

"Maaf mas, kami salah menyajikan. Ayam goreng ini pesanan bapak pelanggan yang disana", kata pelayan sambil menunjuk seorang pria berbadan kekar dan berwajah preman.

Akan tetapi karena sudah terlanjur lapar, Mukidi ngotot bahwa ayam goreng itu adalah haknya.

Pria bertampang preman itu segera menghampiri meja Mukidi dan menggertaknya.

"AWAS kalau kamu berani menyentuh ayam itu...!!! Apapun yang kamu lakukan kepada ayam goreng itu, akan aku lakukan kepadamu. Kamu potong kaki ayam itu, aku potong kakimu. Kamu putus lehernya, aku putus lehermu..!!!"

Mendengar ancaman seperti itu, Mukidi hanya tersenyum sinis sambil berkata, "Silahkan! siapa takut?"

Lalu Mukidi segera mengangkat ayam goreng itu dan menjilat pantatnya...

Hahahaha...
Hidup Lik Mukidi !!!"

Mukidi calon gubernur DKI

Pada blog tersebut, dijelaskan siapa Mukidi

"Mukidi berasal dari Cilacap. tipikal orang yang biasa saja, tidak terlalu alim, mudah akrab dengan siapa saja. Punya karir tapi kadang-kadang bisa menjadi apa saja. Istrinya Markonah, juga punya karir tapi tidak terlalu istimewa. Anak mereka 2 orang, Mukirin yang sudah remaja dan Mukiran yang masih duduk di bangku SD. Sahabatnya adalah Wakijan.," begitulah penjelasan sosok Mukidi.

Pada blog CERITAMUKIDI.WORDPRESS.COM pula, tak ada foto wajah Mukidi.

Hanya ada kartun.



Mukidi di sini adalah merek produk kopi.






Pada situs jejaring video YouTube, beredar video parodi Mukidi.

Tak sulit menemukannya sebab cukup mengetik kata kunci (keyword) "Mukidi", maka deretan video terkait akan ditampilkan.

Nah, pada blog, seperti inilah kisah kocak Mukidi yang sebagian dikutip.

Lebaran with Farah



“Nah, besok lebaran makan apa kita?” “Opor kupat seperti biasa, nasi rendang, ayam pop, dendeng balado, soto Betawi…..” “Koq mewah amat?” “Sarapan pagi mas Mukidi ikut makan opor kupat bareng panitia sholat Ied di masjid, siangnya kita halal bi halal ke rumah mas Wakijan, istrinya gak masak tapi pesan delivery rumahmakan Sederhana. Malamnya kita lebaran ke rumah mas Sarmili, istrinya pinter masak soto Betawi loh mas…” “Koq kamu tahu semua?” “Kan sudah dibroadcast di BB…” “Wah mestinya hari kedua kita lebaran di rumah Farah Quinn ya?”

The Beggar

"Sore itu Mukidi menemani istri dan anaknya berbelanja kebutuhan lebaran. Selesai berbelanja mereka menuju ke tempat parkir mal, tangan-tangan mereka sarat dengan kantong plastik belanjaan.

Baru saja mereka keluar seorang wanita pengemis bersama seorang putri kecilnya menengadahkan tangan kea rah Markonah: “Bu, minta sedekah.” katanya.

Markonah kemudian membuka dompetnya lalu menyodorkan selembar Rp.1000 an.

Setelah pengemis itu menerima pemberianny, ia tahu kalau jumlahnya tidak cukup untuk makan berdua anaknya. Dia lalu member istarat dengan mengunc upkan jari-jarinya di arahkan ke mulutnya, kemudian ia memegang kepala anaknya dan sekali lagi ia mengarahkan jari-jari yang terkuncup itu ke arah mulutnya. Seolah ia berkata, “Aku dan anakku ini sudah berhari-hari tidak makan, tolong beri kami tambahan sedekah untuk bisa membeli makanan.”

Markonah membalasnya dengan isyarat pula dengan gerak tangan seolah berkata, “Tidak… tidak, aku tidak akan menambahkan sedekah untukmu!” sambil berjalan bersama anaknya membeli ta’jil untuk berbuka, sementara Mukidi berjalan ke ATM center guna mengecek saldo rekeningnya. Ternyata gaji bulan ini plus THR sudah masuk. Ia tersenyum melihat jumlah saldonya, lalu menarik beberapa juta rupiah dan ia menyiapkan bonus Rp. 10 ribu, untuk pengemis tadi. Diberikannya uang Rp 10 ribu itu kepada si pengemis.




“Alhamdulillah… Alhamdulillah… Alhamdulillah… Terima kasih tuan! Semoga Allah memberikan rezeki berlipat untuk tuan dan keluarga. Semoga Allah memberi kebahagiaan lahir dan batin untuk tuan dan keluarga. Diberikan karunia keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah. Rumah tangga harmonis dan anak-anak yang shaleh dan shalehah. Semoga tuan dan keluarga juga diberi kedudukan yang terhormat kelak nanti di surga…!”

Mukidi tidak menyangka akan mendengar respon yang begitu mengharukan. Mukidi mengira bahwa pengemis tadi hanya akan berucap terima kasih saja. Namun, apa yang diucapkan oleh wanita pengemis tadi sungguh membuat Mukidi terpukau dan membisu. Apalagi tatkala sekali lagi ia dengar wanita itu berkata kepada putri kecilnya, “Nak, alhamdulillah akhirnya kita bisa makan juga…!”

Hati Mukidi berdegupr kencang. Rupanya wanita tadi sungguh berharap tambahan sedekah agar ia dan putrinya bisa makan. Sejurus kemudian mata Mukidi membuntuti kepergian mereka berdua yang berlari menyeberang jalan, lalu masuk ke sebuah warung Tegal untuk makan di sana.

Mukidi masih terdiam dan terpana di tempat itu.

“Ada apa mas?” Tanya Markonah.

“Aku baru saja menambahkan sedekah kepada wanita tadi sebanyak Rp. 10 ribu!”

Markonah hampir tidak setuju, namun Mukidi melanjutkan kalimatnya: “Bu… kamu tahu, saat menerima uang itu ia berucap hamdalah berkali-kali seraya bersyukur kepada Allah. Tidak itu saja, ia mendoakan aku, mendoakan dirimu, anak-anak dan keluarga kita. Panjaaaang sekali doanya. Dia hanya menerima karunia dari Allah SWT sebesar 10 ribu saja sudah sedemikian hebatnya bersyukur, padahal ketika aku melihat saldoku di ATM jumlah saldo kita ribuan kali lipat. dan aku hanya mengangguk-angguk tersenyum. Aku lupa bersyukur, aku malu kepada Allah! Pengemis itu hanya menerima Rp. 10 ribu dan begitu bersyukurnya kepada Allah, berterimakasih kepadaku. Kalau memang demikian, siapakah yang pantas masuk ke dalam surga Allah?”

Previous
Next Post »